Wanita itu mengangguk padamu, dan engkau megangguk balik, samar. Ia cantik, pikirmu. Rambut panjangnya terurai, gaun putihnya membentang di belakang. Wajahnya memang tertutup masker, tapi kau dapat melihat sorot matanya yang teduh dan bijaksana.
Ia menghampirimu, yang sedang berdiri di depan mesin penjual otomatis, memesan sekaleng kopi. Kau menurukan maskermu, tersenyum. Ia ingin mengajakmu bicara. Suaranya, tak seperti dugaanmu, ternyata dalam dan serak.
"Apakah menurutmu aku cantik?"
Apakah wanita ini bercanda? Tentu saja dia cantik. Rambutnya panjang mengilap, kulitnya putih bagai gading. Matanya bulat hitam. Daritadi, kau sudah sangat ketakutan deburan jantungmu terdengar olehnya.
"Ya," balasmu tanpa ragu. Tentu saja ia cantik. Tentu saja---
Wanita itu membuka maskernya, tersenyum lebar. Kau ternganga, kopi kalengan di genggamanmu terlepas. Kulit wajah sekitar bibirnya terbuka begitu saja, seolah diiris dengan silet secara serampangan. Senyum yang ditampilkannya pun hanya sederet gigi putih dalam bibir yang tersilet. Kau tercekat. Wanita itu tertawa.
"Bagaimana?"
"Aku....maaf, tapi siapa yang melakukan ini padamu?" Alih-alih takut, kau merasa.....tidak pasti perasaan ini. Iba? Kasihan? Senasib? Kau bukanlah orang asing dalam kasus kekerasan antar kekasih. Musim panas waktu itu membuktikannya.
"Jangan mengasihaniku." Kali ini wanita itu tampak marah. Kau menggeleng cepat, membuka maskermu, lalu menyibak rambutmu yang tadinya menutupi setengah bagian wajahmu. Di sana, di bagian kanan wajahmu, terdapat bekas luka carut marut dari mata hingga menyentuh atas bibirmu. Hadiah dari mantan pacarmu. Hadiah berupa siraman zat asam yang meluruhkan kecantikanmu.
Kalian saling pandang, lalu tertawa hambar. Tak ada yang perlu dijelaskan. "Dituduh berselinguh?" selorohnya nakal. Ia telah memakai kembali maskernya. Kau pun perlahan menutupi kembali bekas lukamu, lalu mengambil kaleng kopi yang terhempas ke jalan beraspal. Kau hendak membelikanmya kopi juga, ketika, tiba-tiba, ia sudah mengenggamnya. "Tak usah repot-repot."
Kau tidak bertanya kapan ia membelinya dan bagaimana, ada hal-hal di dunia ini yang kau tak perlu mengerti. Sebagai gantinya, kau mengangguk, membenarkan pernyataanya. "Ia menganggap aku terlalu banyak melirik seniorku di kantor. Kubilang, senior itu yang selalu melirikku. Jadi, ia menyiram zat asam itu, supaya aku tidak meliriknya, begitu pun agar si senior tidak melirikku. Ia dipenjara. Aku setengah buta."
"Laki-laki. Selalu merasa berhak atas segala hal, bahkan yang tidak mereka punyai," katanya tajam. Kau mengajaknya untuk duduk di taman, mengobrol, meminum kopi. Ia mengangkat alis.
"Kau tidak takut?"
"Buat apa? Bukan aku orang yang menjadikanmu hantu."
Ia tertawa, meraih tanganmu, dan menuntunmu ke bangku taman. Kalian bercerita semalaman. Dan di pagi hari, sebelum berpamitan, engkau mengecup rambutnya. Ia tertegun, menatapmu malu-malu, sebelum mendaratkan ciuman singkat di pipimu. Kau merona di balik maskermu.
"Esok lagi?"
"Ya."
Komentar
Posting Komentar