Langsung ke konten utama

Hantu

 Wanita itu mengangguk padamu, dan engkau megangguk balik, samar. Ia cantik, pikirmu. Rambut panjangnya terurai, gaun putihnya membentang di belakang. Wajahnya memang tertutup masker, tapi kau dapat melihat sorot matanya yang teduh dan bijaksana. 

Ia menghampirimu, yang sedang berdiri di depan mesin penjual otomatis, memesan sekaleng kopi. Kau menurukan maskermu, tersenyum. Ia ingin mengajakmu bicara. Suaranya, tak seperti dugaanmu, ternyata dalam dan serak. 

"Apakah menurutmu aku cantik?" 

Apakah wanita ini bercanda? Tentu saja dia cantik. Rambutnya panjang mengilap, kulitnya putih bagai gading. Matanya bulat hitam. Daritadi, kau sudah sangat ketakutan deburan jantungmu terdengar olehnya.  

"Ya," balasmu tanpa ragu. Tentu saja ia cantik. Tentu saja--- 

Wanita itu membuka maskernya, tersenyum lebar. Kau ternganga, kopi kalengan di genggamanmu terlepas. Kulit wajah sekitar bibirnya terbuka begitu saja, seolah diiris dengan silet secara serampangan. Senyum yang ditampilkannya pun hanya sederet gigi putih dalam bibir yang tersilet. Kau tercekat. Wanita itu tertawa. 

"Bagaimana?" 

"Aku....maaf, tapi siapa yang melakukan ini padamu?" Alih-alih takut, kau merasa.....tidak pasti perasaan ini. Iba? Kasihan? Senasib? Kau bukanlah orang asing dalam kasus kekerasan antar kekasih. Musim panas waktu itu membuktikannya. 

"Jangan mengasihaniku." Kali ini wanita itu tampak marah. Kau menggeleng cepat, membuka maskermu, lalu menyibak rambutmu yang tadinya menutupi setengah bagian wajahmu. Di sana, di bagian kanan wajahmu, terdapat bekas luka carut marut dari mata hingga menyentuh atas bibirmu. Hadiah dari mantan pacarmu. Hadiah berupa siraman zat asam yang meluruhkan kecantikanmu. 

Kalian saling pandang, lalu tertawa hambar. Tak ada yang perlu dijelaskan. "Dituduh berselinguh?" selorohnya nakal. Ia telah memakai kembali maskernya. Kau pun perlahan menutupi kembali bekas lukamu, lalu mengambil kaleng kopi yang terhempas ke jalan beraspal. Kau hendak membelikanmya kopi juga, ketika, tiba-tiba, ia sudah mengenggamnya. "Tak usah repot-repot." 

Kau tidak bertanya kapan ia membelinya dan bagaimana, ada hal-hal di dunia ini yang kau tak perlu mengerti. Sebagai gantinya, kau mengangguk, membenarkan pernyataanya. "Ia menganggap aku terlalu banyak melirik seniorku di kantor. Kubilang, senior itu yang selalu melirikku.  Jadi, ia menyiram zat asam itu, supaya aku tidak meliriknya, begitu pun agar si senior tidak melirikku. Ia dipenjara. Aku setengah buta." 

"Laki-laki. Selalu merasa berhak atas segala hal, bahkan yang tidak mereka punyai," katanya tajam. Kau mengajaknya untuk duduk di taman, mengobrol, meminum kopi. Ia mengangkat alis. 

"Kau tidak takut?" 

"Buat apa? Bukan aku orang yang menjadikanmu hantu." 

Ia tertawa, meraih tanganmu, dan menuntunmu ke bangku taman. Kalian bercerita semalaman. Dan di pagi hari, sebelum berpamitan, engkau mengecup rambutnya.  Ia tertegun, menatapmu malu-malu, sebelum mendaratkan ciuman singkat di pipimu. Kau merona di balik maskermu. 

"Esok lagi?" 

"Ya."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

We're all Minky Momo(s), after all.

Halo. Sudah berapa lama Farah nggak nulis? :") Blog ini sama berdebunya dengan buku-buku lama di Perpusat UI. Anyway, entah kenapa malam ini sedang ingin menulis. Random saja, karena melihat postingan seorang senior yang telah menyelesaikan sidang skripsinya minggu lalu. Di timeline line, ia me-repost sebuah lirik lagu dari anime tahun 90'an, Minky Momo. Iya, Minky Momo yang rambutnya pink dan bawa-bawa tongkat itu,  yang mungkin jadi inspirasi sinetron 'Bidadariku' Anyway, yang direpost adalah lirik lagu ini: Ingin menjadi apa, setelah dewasa Ingin menjadi apa, tak terbayangkan~ Diikuti dengan kalimat 'paling relatable 2k16'. Dan seketika saya langsung tersentak 'Oh', batin saya. Berbicara tentang masa depan, karir, memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Ada banyak sekali ketidak pastian, ada banyak tantangan yang menunggu. Kadang, saat jalan sudah lurus terbentang di hadapan kita, kita masih bingung harus memilih jalan yang sebelah man...

Sejarah

Ada yang bilang kepadaku tak usah pedulikanmu karena kamu hanyalah benda mati yang membisu pada seonggok waktu Ada pula yang bilang kepadaku untuk bercermin kepadamu karena kamu begitu tua sehingga lakumu telah mengisahkan laku laku dan dosa masa lalu Ada yang bilang kepadaku untuk menghormatimu bukan karena kau begitu tua tetapi karena kau akan selalu dan selalu menjadi baru Ada yang bilang kepadaku bahwa kamu tidak lebih dari sebuah beban dan dosa yang dibesar besarkan bahwa kamu hanyalah dongengan yang dilegalkan Ada yang bilang kepadaku bahwa kamu belum selesai dan akan mempelajarimu jika sudah selesai cerita tentangmu sambil berseloroh ia mencandakan akhir waktu Lalu, kamu berbisik kepadaku; “Aku memang seonggok benda mati yang membisu, kaummu telah berbicara lebih banyak tentangku dari pada waktu. Aku memang mengisahkan dosa dan laku masa lalu, tapi aku juga mengisahkan bahagia, pesta pora, dan kemenangan penulisku. Aku memang selalu dan selalu menjadi baru, teta...

Piano Man

Piano Man Hoshiura Tanaka             Jazz Hands Bar and Café             5   Januari 2019             2:30 AM.             Bar itu dipenuhi dengan garis polisi, dan di depannya mobil-mobil polisi terparkir.             Polisi-polisi itu sibuk dengan alat komunikasi mereka masing-masing. Salah satu dari mereka, seorang detektif muda bernama Hoshiura Tanaka, terlihat berlarian ke -sana ke mari di TKP. Ia mencatat keterangan para saksi, meneliti bukti-bukti yang ditemukan tim forensik, dan memeriksa kondisi mayat yang ditemukan.             Sementara ini, dia belum bisa menemukan teori apa pun. Penyelidikan pembunuhan bukalah kisah novel Ra...