Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

Fortissimo.

 Laki-laki muda itu menggebrak tuts-tuts piano dengan frustrasi. Ia tidak bisa membaca notasi, dan bisingnya ruangan ini telah memecah konsentrasi. Perlahan, ia bangkit dari duduknya, wajahnya memerah menahan amarah, ia berkata, "DEMI KECAMBAH FORTISSIMO, BISAKAH KALIAN TENANG?"  Sekumpulan arwah itu menunduk malu, namun meneruskan keributan itu. Jenis keributan yang amat kecil--angin meniup jendela, kursi-kursi yang bergerak dengan sendirinya. Tidak menakutkan, tidak mengancam, hanya membuat seseorang yang bertelinga peka menjadi gila. Arwah-arwah itu tidak mau mengalah. Laki-laki muda itu telah muncul tiba-tiba di gereja milik mereka, mengusir jemaat, dan bermain piano sepanjang hari. Arwah-arwah tidak menyukainya karena tentu saja, gereja itu milik mereka. Mereka yang telah dikuburkan di pekarangannya, ditinggalkan penduduk desa yang terlalu sibuk memaknai hidup untuk peduli yang mati. Arwah-arwah membalasnya dengan menghantui desa, memaksa penduduknya mengunjung...