Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Tangled

 Tangan kita tak pernah sudi melepas satu sama lain, bukankah begitu? Dulu, sempat aku melepas genggaman tanganmu,  saat kau pertama kali masuk sekolah. Aku, sebagai kakak yang dititipi menjaga adiknya, buru-buru mengejarmu menuju gerbang SD-mu. Namun, kau sudah berlari sambil tertawa-tawa. Tangan kananmu mengenggam bantal kecil yang selalu kau bawa ke mana-mana, bahkan saat sekolah sekalipun.  Bantal bersarung rajut yang dibuatkan oleh Kakak Pertama, yang membuatnya sebagai penjamin bahwa ia akan kembali ke rumah kita. “Jangan khawatir, aku sudah besar, tidak perlu kau jaga!” Kau berseru dengan riang, rok merahmu mengembang tertiup angin. Melihatmu begitu bahagia, aku pun sedikit lega. Aku melambaikan tangan kepadamu, lalu berlari menuju arah berlawanan, gerbang SMA-ku lima menit lagi akan tertutup.  Sedari tadi, aku begitu mengkhawatirkanmu, dan menunda masuk lebih dulu. Kekhawatiranku ada benarnya, ketika kujemput kau di gerbang SD siang itu, ku...

A Very Simple Love Story.

                The rose in the vase had wilted. It was time.                “Nenek, where are you going?” her Grandson asked, curious. He sat on the couch, a comic book opened on his lap. His gaze followed her, for it was unusual for Nenek to dress up like this. Usually, she would just don a daster and a sweater, a simple hijab framing her face. Even when there was a special event—like a wedding, she would just don her favorite silk abaya, the one that has silver lilies painted on the bottom, and a plain, fluffy hijab. But today she wore a kebaya—white, adorned with gold kerongsang brooch and paired with a richly drawn batik, her hijab done in the twisty, complicated style. This is special, he thought.                Nenek paused, musing. Finally, she said, “You know, ...