Langsung ke konten utama

A Very Simple Love Story.


                The rose in the vase had wilted. It was time.
               “Nenek, where are you going?” her Grandson asked, curious. He sat on the couch, a comic book opened on his lap. His gaze followed her, for it was unusual for Nenek to dress up like this. Usually, she would just don a daster and a sweater, a simple hijab framing her face. Even when there was a special event—like a wedding, she would just don her favorite silk abaya, the one that has silver lilies painted on the bottom, and a plain, fluffy hijab. But today she wore a kebaya—white, adorned with gold kerongsang brooch and paired with a richly drawn batik, her hijab done in the twisty, complicated style. This is special, he thought.
               Nenek paused, musing. Finally, she said, “You know, Nak, I'd rather show you. You come with me. Now, change your clothes into something nice. And no, this is not a wedding."
               Her Grandson rose from the couch and disappeared into his room, only to appear five minutes later in his best attire: a silver tuxedo he had worn on his graduation day.
               “Let’s go, Nenek!”`
               And so, they went out, into Jakarta’s scorching heat.
***             
  Out of all places, he had never expected Nenek to take him into a cemetery. They wore kebaya and tuxedo, for God’s sake. He thought Nenek was going to take him into a restaurant, or maybe to an arisan. He didn’t mind arisan, where the neighbourhood gathered to socialise, because he could eat good food for free (and the other elders were nice to him, often giving him pocket money), but this?
               Nenek saw the look on his face and laughed. “Sorry, Nak, this is your Kakek’s request. You see, we met at a library, fighting to get the last copy of Beauty and The Beast. We decided to borrow it under his card and take turns in reading it. By the end of this turn he got two things: me and a heap of library fines,” she said. “But that’s not all. He also said that if he passed away first, I was to buy a single rose, put it in a vase, and wait until it wilts. Only when it wilts shall we visit his grave.”
               “So the nice clothes are for him? Because you said that we should put on our best clothes to meet the people we respect most?” he asked. Nenek had told him this when he had put on a dirty koko for a Friday prayer, admonishing him for being so thoughtless. She smiled sadly and took out the single wilted rose from her bag.
               “Yes, Nak, exactly.”
               In silence, they prayed.
***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

We're all Minky Momo(s), after all.

Halo. Sudah berapa lama Farah nggak nulis? :") Blog ini sama berdebunya dengan buku-buku lama di Perpusat UI. Anyway, entah kenapa malam ini sedang ingin menulis. Random saja, karena melihat postingan seorang senior yang telah menyelesaikan sidang skripsinya minggu lalu. Di timeline line, ia me-repost sebuah lirik lagu dari anime tahun 90'an, Minky Momo. Iya, Minky Momo yang rambutnya pink dan bawa-bawa tongkat itu,  yang mungkin jadi inspirasi sinetron 'Bidadariku' Anyway, yang direpost adalah lirik lagu ini: Ingin menjadi apa, setelah dewasa Ingin menjadi apa, tak terbayangkan~ Diikuti dengan kalimat 'paling relatable 2k16'. Dan seketika saya langsung tersentak 'Oh', batin saya. Berbicara tentang masa depan, karir, memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Ada banyak sekali ketidak pastian, ada banyak tantangan yang menunggu. Kadang, saat jalan sudah lurus terbentang di hadapan kita, kita masih bingung harus memilih jalan yang sebelah man...

Sejarah

Ada yang bilang kepadaku tak usah pedulikanmu karena kamu hanyalah benda mati yang membisu pada seonggok waktu Ada pula yang bilang kepadaku untuk bercermin kepadamu karena kamu begitu tua sehingga lakumu telah mengisahkan laku laku dan dosa masa lalu Ada yang bilang kepadaku untuk menghormatimu bukan karena kau begitu tua tetapi karena kau akan selalu dan selalu menjadi baru Ada yang bilang kepadaku bahwa kamu tidak lebih dari sebuah beban dan dosa yang dibesar besarkan bahwa kamu hanyalah dongengan yang dilegalkan Ada yang bilang kepadaku bahwa kamu belum selesai dan akan mempelajarimu jika sudah selesai cerita tentangmu sambil berseloroh ia mencandakan akhir waktu Lalu, kamu berbisik kepadaku; “Aku memang seonggok benda mati yang membisu, kaummu telah berbicara lebih banyak tentangku dari pada waktu. Aku memang mengisahkan dosa dan laku masa lalu, tapi aku juga mengisahkan bahagia, pesta pora, dan kemenangan penulisku. Aku memang selalu dan selalu menjadi baru, teta...

Piano Man

Piano Man Hoshiura Tanaka             Jazz Hands Bar and Café             5   Januari 2019             2:30 AM.             Bar itu dipenuhi dengan garis polisi, dan di depannya mobil-mobil polisi terparkir.             Polisi-polisi itu sibuk dengan alat komunikasi mereka masing-masing. Salah satu dari mereka, seorang detektif muda bernama Hoshiura Tanaka, terlihat berlarian ke -sana ke mari di TKP. Ia mencatat keterangan para saksi, meneliti bukti-bukti yang ditemukan tim forensik, dan memeriksa kondisi mayat yang ditemukan.             Sementara ini, dia belum bisa menemukan teori apa pun. Penyelidikan pembunuhan bukalah kisah novel Ra...