Wanita itu mengangguk padamu, dan engkau megangguk balik, samar. Ia cantik, pikirmu. Rambut panjangnya terurai, gaun putihnya membentang di belakang. Wajahnya memang tertutup masker, tapi kau dapat melihat sorot matanya yang teduh dan bijaksana. Ia menghampirimu, yang sedang berdiri di depan mesin penjual otomatis, memesan sekaleng kopi. Kau menurukan maskermu, tersenyum. Ia ingin mengajakmu bicara. Suaranya, tak seperti dugaanmu, ternyata dalam dan serak. "Apakah menurutmu aku cantik?" Apakah wanita ini bercanda? Tentu saja dia cantik. Rambutnya panjang mengilap, kulitnya putih bagai gading. Matanya bulat hitam. Daritadi, kau sudah sangat ketakutan deburan jantungmu terdengar olehnya. "Ya," balasmu tanpa ragu. Tentu saja ia cantik. Tentu saja--- Wanita itu membuka maskernya, tersenyum lebar. Kau ternganga, kopi kalengan di genggamanmu terlepas. Kulit wajah sekitar bibirnya terbuka begitu saja, seolah diiris dengan silet secara serampangan. Seny...