Wanita itu mengangguk padamu, dan engkau megangguk balik, samar. Ia cantik, pikirmu. Rambut panjangnya terurai, gaun putihnya membentang di belakang. Wajahnya memang tertutup masker, tapi kau dapat melihat sorot matanya yang teduh dan bijaksana. Ia menghampirimu, yang sedang berdiri di depan mesin penjual otomatis, memesan sekaleng kopi. Kau menurukan maskermu, tersenyum. Ia ingin mengajakmu bicara. Suaranya, tak seperti dugaanmu, ternyata dalam dan serak. "Apakah menurutmu aku cantik?" Apakah wanita ini bercanda? Tentu saja dia cantik. Rambutnya panjang mengilap, kulitnya putih bagai gading. Matanya bulat hitam. Daritadi, kau sudah sangat ketakutan deburan jantungmu terdengar olehnya. "Ya," balasmu tanpa ragu. Tentu saja ia cantik. Tentu saja--- Wanita itu membuka maskernya, tersenyum lebar. Kau ternganga, kopi kalengan di genggamanmu terlepas. Kulit wajah sekitar bibirnya terbuka begitu saja, seolah diiris dengan silet secara serampangan. Seny...
Tangan kita tak pernah sudi melepas satu sama lain, bukankah begitu? Dulu, sempat aku melepas genggaman tanganmu, saat kau pertama kali masuk sekolah. Aku, sebagai kakak yang dititipi menjaga adiknya, buru-buru mengejarmu menuju gerbang SD-mu. Namun, kau sudah berlari sambil tertawa-tawa. Tangan kananmu mengenggam bantal kecil yang selalu kau bawa ke mana-mana, bahkan saat sekolah sekalipun. Bantal bersarung rajut yang dibuatkan oleh Kakak Pertama, yang membuatnya sebagai penjamin bahwa ia akan kembali ke rumah kita. “Jangan khawatir, aku sudah besar, tidak perlu kau jaga!” Kau berseru dengan riang, rok merahmu mengembang tertiup angin. Melihatmu begitu bahagia, aku pun sedikit lega. Aku melambaikan tangan kepadamu, lalu berlari menuju arah berlawanan, gerbang SMA-ku lima menit lagi akan tertutup. Sedari tadi, aku begitu mengkhawatirkanmu, dan menunda masuk lebih dulu. Kekhawatiranku ada benarnya, ketika kujemput kau di gerbang SD siang itu, ku...