Langsung ke konten utama

Postingan

Hantu

 Wanita itu mengangguk padamu, dan engkau megangguk balik, samar. Ia cantik, pikirmu. Rambut panjangnya terurai, gaun putihnya membentang di belakang. Wajahnya memang tertutup masker, tapi kau dapat melihat sorot matanya yang teduh dan bijaksana.  Ia menghampirimu, yang sedang berdiri di depan mesin penjual otomatis, memesan sekaleng kopi. Kau menurukan maskermu, tersenyum. Ia ingin mengajakmu bicara. Suaranya, tak seperti dugaanmu, ternyata dalam dan serak.  "Apakah menurutmu aku cantik?"  Apakah wanita ini bercanda? Tentu saja dia cantik. Rambutnya panjang mengilap, kulitnya putih bagai gading. Matanya bulat hitam. Daritadi, kau sudah sangat ketakutan deburan jantungmu terdengar olehnya.   "Ya," balasmu tanpa ragu. Tentu saja ia cantik. Tentu saja---  Wanita itu membuka maskernya, tersenyum lebar. Kau ternganga, kopi kalengan di genggamanmu terlepas. Kulit wajah sekitar bibirnya terbuka begitu saja, seolah diiris dengan silet secara serampangan. Seny...
Postingan terbaru

Tangled

 Tangan kita tak pernah sudi melepas satu sama lain, bukankah begitu? Dulu, sempat aku melepas genggaman tanganmu,  saat kau pertama kali masuk sekolah. Aku, sebagai kakak yang dititipi menjaga adiknya, buru-buru mengejarmu menuju gerbang SD-mu. Namun, kau sudah berlari sambil tertawa-tawa. Tangan kananmu mengenggam bantal kecil yang selalu kau bawa ke mana-mana, bahkan saat sekolah sekalipun.  Bantal bersarung rajut yang dibuatkan oleh Kakak Pertama, yang membuatnya sebagai penjamin bahwa ia akan kembali ke rumah kita. “Jangan khawatir, aku sudah besar, tidak perlu kau jaga!” Kau berseru dengan riang, rok merahmu mengembang tertiup angin. Melihatmu begitu bahagia, aku pun sedikit lega. Aku melambaikan tangan kepadamu, lalu berlari menuju arah berlawanan, gerbang SMA-ku lima menit lagi akan tertutup.  Sedari tadi, aku begitu mengkhawatirkanmu, dan menunda masuk lebih dulu. Kekhawatiranku ada benarnya, ketika kujemput kau di gerbang SD siang itu, ku...

A Very Simple Love Story.

                The rose in the vase had wilted. It was time.                “Nenek, where are you going?” her Grandson asked, curious. He sat on the couch, a comic book opened on his lap. His gaze followed her, for it was unusual for Nenek to dress up like this. Usually, she would just don a daster and a sweater, a simple hijab framing her face. Even when there was a special event—like a wedding, she would just don her favorite silk abaya, the one that has silver lilies painted on the bottom, and a plain, fluffy hijab. But today she wore a kebaya—white, adorned with gold kerongsang brooch and paired with a richly drawn batik, her hijab done in the twisty, complicated style. This is special, he thought.                Nenek paused, musing. Finally, she said, “You know, ...

Lapak Permen Kedukaan.

Laki-laki tua itu menghampiri salah satu lapak kayu di pasar malam yang hampir tutup. Dia tidak terlambat, dia justru tepat waktu. Saat pasar hampir tutup adalah waktu ramai-ramainya pengunjung, dan tubuh tua dan lelahnya tak perlu berlama-lama menjajakan dagangan. ⁣⁣ ⁣⁣ Ia meletakkan tas kainnya yang lusuh. Tas itu ia wariskan dari ayahnya, ayahnya mendapat dari kakeknya, dan begitu seterusnya, hingga mungkin, jika dilacak, tas itu hampir sama tuanya dengan seisi dunia. ⁣⁣ ⁣⁣ Benda setua itu mengandung kebijaksanaannya sendiri. Karena itulah, kakek tua itu tak pernah mengganti tas-nya, betapa pun lusuhnya. ⁣⁣ ⁣⁣ Dari dalam tas hitam itu, ia mengeluarkan barang dagangannya. Permen-permen loli cerah dengan berbagai ukuran, dikeluarkan dan dijajarkannya satu per satu di atas meja. Ia tidak punya tempat menata yang istimewa seperti lapak-lapak di sampingnya, yang menata dagangan mereka dengan rak-rak plastik cerah dan kerlap-kerlip lampu. Ia hanya menata--menghamburkan, tepatnya--pe...

Kalian yang ada di Kepala

Kalian yang ada di kepala Oleh: Matsurika “Off course it’s happening inside your head, Harry, but why on earth should that mean that it is not real?” -Albus Dumbledore (J.K Rowling: Harry Potter and the Deathly Hallows) Kalian yang ada di dalam kepala, Bercengkrama, menjalin kisah-kisah “Tapi, kami tidak nyata” Begitukah? Kalian yang ada di dalam kepala, “BERISIK!” bisikku sendiri Ribut sekali minta dituliskan Tidak tahu, bahwa aku sedang keletihan Kalian yang ada di atas kertas, Bukannya berdamai, malah makin ramai “Kamu bukan Tuhan di sini, wahai Pencerita” Lalu aku apa? Barangkali sisa reruntuhan kuil Dewa Kalian yang ada di atas kertas, Ingin mencari takdir-takdir sendiri Memusingkan penulis yang keracunan Bergelas-gelas kopi Kalian yang ada di dalam buku, Aku merindukan kebijaksanaanmu, Aku ingin meminjam keberanianmu, Dan mengabulkan harapan-harapanmu “Berhenti minum kopi kebanyakan gula, Wahai pencerita! Kami ...

Kompartemen Terakhir

Kompartemen Terakhir Oleh: Farah Fakhirah Cerita ini terinspirasi dari tagar #JakartaEncounters di media sosial twitter.             Kau melirik jam tanganmu, lima menit menuju pukul sembilan malam.             Kau menyumpah-nyumpah, entah kepada ketua organisasimu, pada kepala seksimu, atau kepada dirimu sendiri kau tujukan sumpah serapah ini, kau tak tahu. Yang kau tahu, karena rapat sialan yang menyita sebagian besar waktumu itu, kini kau hanya punya lima menit untuk mengejar kereta terakhir menuju rumahmu.             Beginilah nasib kalau menjadi mahasiswa aktif yang tidak diperbolehkan mengekos, pikirmu. Kau hanya punya dua pilihan: meminta izin untuk pulang terlebih dahulu, karena kereta yang akan mengantarmu pulang tidak akan lagi datang, atau menginap di kosan temanmu, dengan catatan temanmu adala...