Langsung ke konten utama

Kompartemen Terakhir


Kompartemen Terakhir
Oleh: Farah Fakhirah
Cerita ini terinspirasi dari tagar #JakartaEncounters di media sosial twitter.
           
Kau melirik jam tanganmu, lima menit menuju pukul sembilan malam.
            Kau menyumpah-nyumpah, entah kepada ketua organisasimu, pada kepala seksimu, atau kepada dirimu sendiri kau tujukan sumpah serapah ini, kau tak tahu. Yang kau tahu, karena rapat sialan yang menyita sebagian besar waktumu itu, kini kau hanya punya lima menit untuk mengejar kereta terakhir menuju rumahmu.
            Beginilah nasib kalau menjadi mahasiswa aktif yang tidak diperbolehkan mengekos, pikirmu. Kau hanya punya dua pilihan: meminta izin untuk pulang terlebih dahulu, karena kereta yang akan mengantarmu pulang tidak akan lagi datang, atau menginap di kosan temanmu, dengan catatan temanmu adalah teman yang pernah bertemu muka dengan orang tuamu.
            Kau mendesah, mempercepat larimu ketika mendengar suara kereta dan bunyi palang perlintasan stasiun. Kini, kau memasuki stasiun yang sepi. Kau tidak memperhatikan apakah kartu keretamu sempat terbaca oleh mesin pembaca tiket atau tidak. Kau tak sempat mengamati sekitar, tak terlihat olehmu bahwa stasiun itu kosong melompong, tak ada satu penjaga pun di peronnya.
           Kau berseru lega ketika kereta tiba. Tanpa pikir panjang, kau menaiki kompartemen terakhir, tempat yang biasa kau naiki ketika kau tengah lelah. Kau tidak terlalu memperhatikan kondisi sekitarmu, kompartemen ini sedikit gelap, lengang, dan deretan bangkunya pun berbeda dengan kereta yang  sering kau duduki. Kau tak ambil pusing. Baguslah kalau memang tak ada orang yang menaiki kereta ini, pikirmu, berarti kau bisa tidur dengan tenang.
            Tanganmu merogoh-rogoh tas kanvasmu, mencari kabel putih yang merupakan ciri headset-mu, berencana menghabiskan perjalanan ini dengan tidur sembari diiringin suara penyanyi kesayanganmu. Pada akhirnya, kau mengeluarkan isi tasmu satu per satu: buku kuliah, pengisi daya ponsel, tempat pensil, dompet, kunci rumah, semua tergeletak di bangku panjang keretamu. Kau melihat headset-mu, tergeletak kusut di dasar tas, meraihnya, memasukkan barang-barangmu, lalu mulai mendengarkan lagu.
            Sembari mendengarkan lagu, kau bersandar di kursimu. Fisik dan batinmu lelah karena rapat tadi. Utamanya batinmu, karena divisimu-lah yang bertanggung jawab untuk menyukseskan acara ini. Pikiran ini membuatmu sulit memejamkan mata, apalagi karena kau masih ingin tahu kelanjutan rapat tadi. Akhirnya, dengan malas-malasan, kau membuka aplikasi LINE-mu, melihat angka +100 yang tertera pada logonya. Benar saja, kau melihat ruang obrolan panitia organisasimu-lah yang memenuhi notifikasi itu.
            Kau coba mengikuti alur pembicaraan. Pertama-tama, kau membaca notulensi yang telah diketik oleh sekertaris.  Target, target, dan target. Diam-diam, otakmu menghitung peluang untuk mendapatkan uang sebanyak itu, dan dengan tempo yang tinggal tiga bulan dari jalannya acara. Kau tidak yakin mampu menutupinya dengan kembali  berjualan risol koperasi mahasiswa yang terlalu banyak minyaknya. Lagipula, kalau kau harus memakan semua risol itu lagi, kau terancam terkena penyakit usus buntu.
            Kau melanjutkan membaca obrolan itu, melewati bagian-bagian yang tidak terlalu penting—teman-temanmu yang saling menggoda soal pacar-pacar mereka, ketua organisasi yang salah tingkah saat dipuji ketua jurusan—tidak penting buatmu saat ini. Ada waktunya kau mengurusi urusan pribadi teman-temanmu, tapi sekarang, kau terlalu lelah untuk itu. Kau mencatat dalam hati yang harus kau penuhi: target uang, berapa harga vendor, dan target  sponsor yang harus dipenuhi.
            Saat itulah, matamu membaca obrolan terakhir dari temanmu, sebuah kutipan berita tentang kecelakaan kereta.
            “Eh, yang pulang naik kereta nggak apa-apa kan?”
            “Amaaann. Gue arah sebaliknya, kok!”
            Kau mengetik balasan, cepat:
“Gue arah situ, tapi amaan kokkk”
            Kau tidak menjawab ucapan syukur dari teman-temanmu, memilih untuk mengalihkan ponselmu dalam mode pesawat, bersandar di kursi kereta, dan menikmati waktu tidurmu. Kau tidak menyadari, kereta ini, sedari tadi, tak pernah menyebutkan di stasiun mana saja ia berhenti. Kau juga tidak menyadari, bahwa di sekitarmu kini bangku-bangku perlahan mulai terisi. Seorang wanita berambut hitam panjang, gaun merahnya menyapu lantai, pemuda yang berseragam tentara, bajunya ternoda darah, dan puluhan orang lainnya, tiba-tiba muncul satu per satu, menunduk seakan mengantuk, menyembunyikan luka bakar di kepala mereka.
***
            Kau merasa terusik, hawa di sekitarmu tiba-tiba mendingin. Barangkali, karena tidak banyak orang yang naik kereta ini, pikirmu terkantuk-kantuk. Kau membuka mata perlahan, terkejut mendapati begitu banyaknya penumpang yang tiba-tiba muncul di sekitarmu. Kau melirik sekilas, mencoba mengenali ciri peron stasiun yang baru kau lewati. Ah, kau baru saja melewati stasiun Tanah Abang, pikirmu. Stasiun satu itu memang tidak pernah sepi.
            Kau menegakkan badanmu, terduduk menahan kantuk. Memang, stasiun tujuanmu, Jatinegara, masih jauh dari stasiun ini, tapi kau tak mau mengambil risiko tertidur dan melewatkan stasiun tujuanmu. Kau melirik ke arah sekitar, mengamati orang-orang di sekitarmu yang tertunduk. Kau harus mengajak seseorang mengobrol agar tidak tertidur, dan untuk mengingatkanmu untuk turun pada stasiun tujuanmu.
            Matamu tertumbuk pada seorang wanita muda. Gaun merahnya menempel ketat di badannya. Gaun itu berbelahan dada rendah, dan ekor gaunnya menyapu lantai kereta. Rambut hitamnya tergerai panjang, menutupi bahu dan lehernya yang jenjang. Wajahnya tersapu sisa-sisa riasan, namun gincu merahnya masih menyala di bibirnya. Ia cantik. Amat cantik.
            Tangannya terangkat, mengisyarakatmu untuk duduk di sampingnya. Kau berdiri dari tempatmu duduk, menyambangi tempat duduk wanita itu, yang terletak tak jauh dari pintu kereta. Kini, setelah kau menatapnya lekat-lekat, kau menyadari bahwa bekas riasannya yang tipis itu luntur karena tergerus airmata. Tapi, bibir merahnya masih menyunggingkan senyum. Kau memberanikan diri menyapanya,
            “Malam, Mbak”, sapamu sekenanya.
            “Malam, dik, Pulang malam habis kuliah, ya?” ia bertanya dengan ramah. Kau mengangguk. Tas kanvas yang berlogo universitasmu itu memang memperlihatkan statusmu sebagai mahasiswa. Ia tersenyum sejenak, lalu melanjutkan percakapan itu.
            “Wah,saya iri loh,dik, sama mereka yang berkuliah. Mbak ini orang desa, jadi tidak pernah merasakan kuliah”, ungkapnya sedih. Kau memperhatikan bahwa usia wanita muda itu tidak berapa jauh dengan usiamu. Penasaran, kau bertanya,
            “Memangnya usia Mbak berapa ya, kalau boleh tahu?”
            Wanita muda itu tertawa. “Usia? Janganlah tanya usia pada wanita. Sensitif.”
            Kau menunduk malu, merasa bersalah dan tak peka pada perasaan wanita muda itu. Namun, tawanya seketika menghapus rasa bersalahmu. Agaknya, ia hanya bercanda dengan perkataanya itu. Kau ikut tertawa,
            “Lagipula, nanti adik kaget kalau saya bilang berapa umur saya”, tawa wanita muda itu sedikit melengking, dan tiba-tiba, bulu kudukmu berdiri semua. Engkau melihat sekelebatan gambaran di depan matamu, mata wanita muda yang perlahan-lahan berubah menjadi merah, giginya yang berbuah menjadi tajam, dan tangannya yang seakan hendak mencengkrammu. Kau ingin berteriak, namun tenggorokanmu tercekat.
            Lalu, saat kepanikan menguasaimu, kau mendengar panggilan dari bangku seberang, “Ariah,” panggilan itu begitu tegas, dan seperti diperintah, wanita itu berhenti dan gambaran yang kau lihat menghilang.  Kau menghela nafas lega. Namun, masih memandang wanita muda itu dengan perasaan takut. Siapakah dia ini sebenarnya? Wanita cantik dengan riasan yang tergerus air mata dan gaun merah menyala?
            “Bang Maing—“ suara wanita muda itu setengah terdengar menggoda, setengah frustrasi. Yang dipanggil Bang Maing—sosok dengan jas dan kemeja, berambut klimis, dan raut muka tegas—menggelengkan kepala. Bang Maing duduk di seberangmu dan wanita muda itu—Ariah, kini kau tahu namanya,  dan berkata dengan tegasnya,
            “Dia tidak bersalah, Ariah. Hentikan saja.”
            Tapi wanita itu tidak mendengarkan. Wajah cantiknya kini luruh, matanya melotot memandangmu. Wajah itu kini menjadi kumpulan tulang belulang, dan tubuhnya adalah tubuh seorang gadis yang bersimbah darah, sentuhannya mengalirkan cerita-cerita kepadamu.
            Ia jatuh cinta pada seorang pemuda...
            Pemuda itu mencintainya pula....
            Tapi seorang Tuan Tanah menghalangi cinta mereka...
            Citraan mayat di sungai. Air mata yang mengalir dari pipi wanita itu. Sedang wanita di hadapanmu, rogga matanya mengeluarkan darah. Kau bergidik, ketakutan namun juga dilanda gelombang kesedihan.
            Ia kabur, bertemu dengan seseornag yang menjadi cinta keduanya....
            Namun ternyata orang itu mengkhianatinya, menodainya, kemudian membuangnya......
            “Kau sama bersalahnya dengan yang lain. Kesalahanmu hanya satu: tidak peduli. Engkau diam. Diam atasku yang diperlakukan semena-mena. Engkau juga diam mereka yang mengalami nasib yang sama. Engkau diam! Engkau tidak mau tahu, maka inilah hukumanku buatmu: saksikanlah! Jadilah saksi!”
            Citraan hebat memenuhi benakmu. Satu per satu, dari mereka yang telah tiada. Gadis yang menderita akibat cintanya ditolak, wanita yang dinodai, kulit putih dan mata sipitnya menjeritkan tuduhan. Seorang bapak yang memeluk boneka untuk diberikan pada anaknya, kulitnya mengelupas dan terpanggang.  Pemuda-pemuda dengan lubang peluru di dada. Kau menjerit. Tetapi semakin kencang jeritanmu, semakin keras balasan jeritan mereka di kepalamu.
            Kau merasa hampir gila, ketika suara tegas dan dalam itu memotong keriuhan yang ditimbulkan oleh arwah-arwah penasaran di sekitarmu.
            “Cukup. Kita telah sampai di stasiun tujuan....”
***
            “...stasiun Jatinegara. Harap periksa kembali barang-barang Anda, jangan sampai tertinggal di dalam kereta. Terima kasih telah bepergian dengan kereta commuter line Jakarta”, sayup-sayup pengumuman terdengar. Kau membuka matamu, menatap ke sekeliling kompartemenmu. Kosong.
            “Dik, dik, ayo turun, ini keretanya sudah di stasiun terakhir, loh. Nanti kamu tidak bisa pulang,” seorang lelaki paruh baya  menegurmu dengan lembut.
            Kau mengerjapkan mata. Apakah kau bermimpi? Barangkali. Buktinya, headset-mu masih tercantol rapi di telingamu. Hanya saja, badanmu berkeringat dingin, dan kau amat yakin kalau itu bukan karena kegiatan begadangmu belakangan ini.
            Tetap saja, kau bersyukur bahwa apa pun yang terjadi padamu telah berakhir. Kau tersenyum pada lelaki  tadi, berterima kasih pada peringatannya. Kau merasa familiar dengan sosoknya, maka, sembari berjalan keluar dari kompartemen kereta, kau bertanya.
            “Wajah Bapak familiar, apa kita pernah bertemu, Pak?”
            “Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi kau akan mengenal namaku: aku biasa dipanggil Bang Maing, meski namaku sebenarnya Ismail. Ismail Marzuki.”
            Bulu kudukmu merinding. Kau melihat senyuman ramah lelaki paruh baya itu meluruh, kulitnya menghilang, dan kini sebuah rangka tengkorak tersenyum padamu, rahang itu melagu:
            Di Jatinegara kita ‘kan berpisah,
            Berilah nama, alamat serta,
            Esok lusa boleh kita jumpa pula...
            Jeritanmu mampu menenggelamkan bunyi peringatan kereta yang menabrak tubuhmu.
***
@menitcom tweeted
Seorang mahasiswa ditemukan tewas tertabrak kereta, diduga korban tidak mendengar suara peringatan kereta karena memakai headset. #kecelakaan #kereta #jatinegara
You replied:
Bukan, saya mati karena ketidaktahuan. Temui saya di Jatinegara. Saya punya cerita.
***

           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

We're all Minky Momo(s), after all.

Halo. Sudah berapa lama Farah nggak nulis? :") Blog ini sama berdebunya dengan buku-buku lama di Perpusat UI. Anyway, entah kenapa malam ini sedang ingin menulis. Random saja, karena melihat postingan seorang senior yang telah menyelesaikan sidang skripsinya minggu lalu. Di timeline line, ia me-repost sebuah lirik lagu dari anime tahun 90'an, Minky Momo. Iya, Minky Momo yang rambutnya pink dan bawa-bawa tongkat itu,  yang mungkin jadi inspirasi sinetron 'Bidadariku' Anyway, yang direpost adalah lirik lagu ini: Ingin menjadi apa, setelah dewasa Ingin menjadi apa, tak terbayangkan~ Diikuti dengan kalimat 'paling relatable 2k16'. Dan seketika saya langsung tersentak 'Oh', batin saya. Berbicara tentang masa depan, karir, memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Ada banyak sekali ketidak pastian, ada banyak tantangan yang menunggu. Kadang, saat jalan sudah lurus terbentang di hadapan kita, kita masih bingung harus memilih jalan yang sebelah man...

Sejarah

Ada yang bilang kepadaku tak usah pedulikanmu karena kamu hanyalah benda mati yang membisu pada seonggok waktu Ada pula yang bilang kepadaku untuk bercermin kepadamu karena kamu begitu tua sehingga lakumu telah mengisahkan laku laku dan dosa masa lalu Ada yang bilang kepadaku untuk menghormatimu bukan karena kau begitu tua tetapi karena kau akan selalu dan selalu menjadi baru Ada yang bilang kepadaku bahwa kamu tidak lebih dari sebuah beban dan dosa yang dibesar besarkan bahwa kamu hanyalah dongengan yang dilegalkan Ada yang bilang kepadaku bahwa kamu belum selesai dan akan mempelajarimu jika sudah selesai cerita tentangmu sambil berseloroh ia mencandakan akhir waktu Lalu, kamu berbisik kepadaku; “Aku memang seonggok benda mati yang membisu, kaummu telah berbicara lebih banyak tentangku dari pada waktu. Aku memang mengisahkan dosa dan laku masa lalu, tapi aku juga mengisahkan bahagia, pesta pora, dan kemenangan penulisku. Aku memang selalu dan selalu menjadi baru, teta...

Piano Man

Piano Man Hoshiura Tanaka             Jazz Hands Bar and Café             5   Januari 2019             2:30 AM.             Bar itu dipenuhi dengan garis polisi, dan di depannya mobil-mobil polisi terparkir.             Polisi-polisi itu sibuk dengan alat komunikasi mereka masing-masing. Salah satu dari mereka, seorang detektif muda bernama Hoshiura Tanaka, terlihat berlarian ke -sana ke mari di TKP. Ia mencatat keterangan para saksi, meneliti bukti-bukti yang ditemukan tim forensik, dan memeriksa kondisi mayat yang ditemukan.             Sementara ini, dia belum bisa menemukan teori apa pun. Penyelidikan pembunuhan bukalah kisah novel Ra...