Piano Man
Hoshiura Tanaka
Jazz
Hands Bar and Café
5 Januari 2019
2:30
AM.
Bar
itu dipenuhi dengan garis polisi, dan di depannya mobil-mobil polisi terparkir.
Polisi-polisi
itu sibuk dengan alat komunikasi mereka masing-masing. Salah satu dari mereka,
seorang detektif muda bernama Hoshiura Tanaka, terlihat berlarian ke -sana ke
mari di TKP. Ia mencatat keterangan para saksi, meneliti bukti-bukti yang
ditemukan tim forensik, dan memeriksa kondisi mayat yang ditemukan.
Sementara
ini, dia belum bisa menemukan teori apa pun. Penyelidikan pembunuhan bukalah
kisah novel Rampo, pikirnya. Terkadang, untuk mengungkap sebuah pembunuhan,
diperlukan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Tidak ada detektif yang
melenggang masuk ke tempat kejadian perkara, bertanya satu dua pertanyaan, lalu
tiba-tiba mendapat jawabannya.
Tanaka
mendesah, pembunuhan itu terjadi pada pukul dua pagi, demi Tuhan. Ia seharusnya
terlelap bersama Minami, merayakan kelulusan pacarnya itu dari akademi
keperawatan. Tapi, tadi pagi ia terbangun setelah semalaman berpesta dengan
kekasihnya, karena telepon dari ata-sannya, Inspektur Takahashi.
“Ada pembunuhan di daerah Shibuya! Sekarang
kau meluncur segera ke -sana!”
“Pembunuhan?
Tapi sekarang masih pukul—“
“Kau
kira penjahat kenal waktu tidur?! Bangun! Pergi ke Jazz Hands Cafe, aku berikan
alamatnya padamu via SMS nanti! Cepat!”
Tanaka
mendesah lagi, memikirkan Minami yang tertidur lelap di apartemen mereka.
Minami tidak marah, tapi ia mengerti pandangan mata gadis itu. Terluka. Tanaka
telah berjanji bahwa hari kelulusannya esok adalah hari untuk mereka berdua,
tanpa pekerjaan, tanpa interupsi.
Mengeluh tidak akan mengubah apa-apa,
pikirnya. Matanya melayangkan pandang kepada saksi-saksi yang ada di tempat
kejadian perkara. Seorang gadis dengan rambut cokelat sebahu, sedang memeluk
badannya sendiri, di kedua bahunya tersampir jaket cokelat yang sepertinya
diberikan oleh salah seorang dari tim penyelidik tadi. Pakaiannya hanya berupa
sebuah gaun panjang tanpa lengan, manik-manik gaunnya berkilau keperakan. Tanaka
mengecek catatannya. Im So-La,
pikirnya. Seorang mahasiswi pertukaran pelajar dari Korea Selatan yang bekerja
paruh waktu sebagai penyanyi di bar ini.
Bia-sanya
mahasiswi mengambil pekerjaan yang lebih ringan. Seperti menjadi pelayan atau
pencuci piring. Tapi nampaknya So-La menikmati pekerjaanya di sini, sekalipun
itu berarti ia harus kehilangan banyak waktu tidurnya karena bar ini beroperasi
hingga dini hari. Gadis itu menatap kosong pada bangunan di depannya, terlihat -sangat
terpukul karena kejadian ini.
Di sampingnya, seorang wanita dengan seragam
putih kokinya berdiri sembari bersedekap. Wanita itu tampak tak terlalu
menyukai kenyataan bahwa ia harus berdiri di samping So-La, dan menghembuskan
nafas begitu keras ketika salah seorang anggota tim memberikan jaketnya saat
melihat So-La kedinginan.
Emiko Maki, pikir Tanaka sembari melihat
catatanya. Seorang koki yang bekerja di tempat ini semenjak tempat ini dibuka. Berumur sekitar tiga puluh tahunan, dengan
tangan yang terlihat bekas ruam-ruam—tadinya Emiko adalah seorang pembuat mani-san—dan
wajah yang kaku. Rambut hitamnya terkunci ketat di atas kepalanya. Postur
tubuhnya yang tegap dan besar terlihat kontras dengan tubuh kecil So-La.
Berdiri
di sampingnya, seorang lelaki berkulit kecoklatan dengan rambut dicat pirang.
Taguchi Igoo, bartender tempat ini. Sosoknya ceking, matanya cekung, dan
jari-jarinya panjang. Kalau tidak diberitahu bahwa ialah bartender tempat ini,
Tanaka akan mengira kalau ia adalah pianis bar ini. Sosoknya dan cara
pembawaanya -sangat mirip dengan seorang
pianis, meski rambutnya sedikit berantakan dan bicaranya urakan. Ini diketahui
Tanaka dari sedikit mewawancarainya soal apa yang diketahuinya tadi.
Dan
yang terakhir, diantara kerumunan orang yang berkumpul di depan Jazz Hands, adalah
pemilik bar ini, Ogawa Yuuto. Seorang pria bertubuh gempal yang memakai setelan
jas berwarna abu-abu, perutnya menyempil dari balik kemeja putihnya Kepala
botaknya penuh dengan keringat, dan Tanaka -sangat memahami bahwa ia tidak
sedih karena kehilangan pianisnya, tapi merasa gusar dan marah karena kini ia
harus mencari pianis baru, dan kemungkinan besar bar-nya akan segera kehilangan
pelanggan. Matanya juga berkali-kali melirik ke arah So-La, tatapan kemarahan
sekaligus tatapan penuh nafsu.
Melihat
hal itu, Tanaka segera bergerak dari tempatnya mengamati para saksi tadi.
Dengan langkah tegap, ia melangkah, dan berdiri tepat di depan pria gempal tersebut.
Ogawa tersentak, dan seketika menunjukkan wajah geram ketika ia tahu bahwa niatnya
untuk berbuat macam-macam kepada So-La digagalkan oleh seorang detektif polisi
muda. Tanaka tersenyum, senyum professional yang ia simpan khusus untuk
orang-orang yang dia tidak sukai, namun harus beramah-tamah demi tuntutan
pekerjaanya.
“Shitsurei desuga[1],
Ogawa-san?”
“Ada
apa, detektif?”
Suara
orang tua itu kentara sekali membencinya. Tanaka harus menahan keinginannya
untuk meninju wajah orang tua itu detik ini juga. Kentara sekali bahwa manusia
satu ini ingin melecehkan So-La, dan anehnya, tak ada satu pun koleganya yang
membela gadis itu.
“Saya
harus melaksanakan wawancara mendalam dengan para saksi, termasuk anda,
Ogawa-san.”
“Huh!
Lakukan saja kalau memang itu harus anda lakukan. Anak sialan satu ini!
Berani-beraninya mati saat bisnisku sedang naik-naiknya!”
Tanaka
tersenyum dingin. Sabar, pikirnya. Lelaki di depannya tidak patut menerima
keahlian karatenya.
“Baiklah,
Ogawa-san. Bolehkah kita memulai wawancara ini dengan kembali ke dalam bar
anda, dan melak-sanakan wawancara di kantor anda? Tentunya anda paham bahwa
saya tidak mungkin melakukan wawancara di jalanan ini, bukan?”
Wajah
Ogawa sedikit memerah, sepertinya ia tersinggung karena secara tidak langsung,
Tanaka menganggapnya tak sopan . Saat detektif polisi itu mengajukan idenya
untuk mewawancarai mereka pertama kali di kantornya, ia menolak habis-habi-san.
Tanaka sengaja mengajukan kembali ide ini di depan staf-stafnya yang lain,
paling tidak, si tua bangka ini akan punya secuil rasa malu untuk tidak menolak
usulannya.
“Baiklah
kalau memang harus seperti itu. Anda tolong ikuti saya masuk melalui pintu
belakang, supaya penyelidikan sialan ini bisa selesai dnegan cepat, dan
pegawai-pegawai saya bisa pulang.”
Mereka
berjalan memutari bangunan tersebut. Pintu belakang yang dimaksud terkoneksi
langsung dengan kantor Ogawa, yang merupakan ruang paling terpencil dari
keseluruhan bar. Ogawa sendiri mengaku jarang berada di sini, dan hanya berada
di kantor ketika keadaan bar sudah sepi.
“Aku
suka berinteraksi dengan pelanggan dan para pegawaiku, jadi aku amat jarang
berada di kantor. Hampir semua orang melihatku berkeliaran di area utama
sepanjang malam. Yah, kecuali pada malam sialan ini”, laki-laki itu sembari
memutar kenop pintu ruangannya. Ia mempersilahkan para pegawainya dan Tanaka
masuk, namun Tanaka mencegah para pegawai itu masuk, mengangetkan Ogawa.
“Sebaiknya
mereka menunggu di luar dulu saja, Ogawa-san. Mungkin di selasar antara ruang
utama dan ruang ini.”
“Maksudmu,
aku yang akan pertama kali kau wawancara? Apa sebegitu mencurigakannya sikapku,
hah?”
“Benar
sekali, Ogawa-san. Dan perkara mencurigakan atau tidaknya bisa saya tentukan
setelah perbincangan kita nanti.”
Tanak
mempersilahkan lelaki itu memasuki ruangan kerjanya sendiri, lalu untuk pertama
kalinya pada dini hari itu, tersenyum geli.
***
Kesaksian Ogawa Yuuto
Pemilik
Bar Jazz Hands
Umur:
43 tahun
“Jadi,
di mana anda saat pembunuhan terjadi?”
“Saya
sedang berada di kantor saya, seperti yang saya katakana tadi. Saat itu sudah
cukup larut malam. Samar-samar, saya hanya mendengar irama piano, tapi tidak
mendengar So-La menyanyi. Lalu, saya mendengar teriakan Emiko dan menemukan
lelaki itu sudah mati tertusuk pisau.” ,
laki-laki tua itu melanjutkan sembari menyesap kopi yang tadi disediakan
Tanaka. Sejenak kemudian, ia tersedak.
“Kau
tidak berbakat menjadi Bartender.”
“Saya
detektif”, Tanak tersenyum kecil sebelum melanjutkan. “Setelah mendengar
keributan itu, apa yang anda lakukan?”
“Saya
menghampiri panggung utama, Emiko sedang menangisi pria sialan itu. Dadanya
tertusuk, sepertinya. Lalu ada pe-san itu...”
Tanaka
menyodorkan sebuah foto yang diperbesar. Tergambar di foto itu sebuah partitur
yang bertuliskan beberapa not balok. Sebuah not balok di garis kedua dan
ketiga, serta sebuah not balok di baris ketiga, dan sebuah tanda berhenti yang
terlihat seperti topi.
“Menurut
anda, pe-san ini berbicara sesuatu?”
Laki-laki
itu mendengus, “Tentu saja, sudah jelas bukan, detektif? Sebuah not sol dan la.
Nama pembunuhnya sudah jelas tertera di situ!”
Tanaka
menghela nafas. Ia tahu bahwa nama So-La tertera dengan jelas di pesan kematian
ini. Permasalahannya, intuisinya sebagai detektif mencegahnya untuk menuduh So-La.
Gadis itu terlihat -sangat terpukul, dan sepertinya ada sesuatu yang pernah
terjadi antara So-La dan pianis itu.
“Apakah
menurut anda ada sesuatu yang terjadi antara So-La dan pianis ini, Morikawa
Haruto?”
Laki-laki
itu tertawa, “Oh, kalau kau melihat cara Morikawa memandang So-La! Laki-laki
itu tergila-gila pada So-La! Bahkan orang buta sekalipun bisa melihat bahwa
Morikawa jatuh cinta padanya!”
Tanaka mengerutkan kening, Menarik, pikirnya.
Kini ia mengerti kenapa So-La begitu terpukul dengan kematian Morikawa. Melihat
reaksi gadis itu, sepertinya perasaan mereka berdua saling berbalas, yang
berarti pe-san kematian itu bisa jadi memiliki arti lain.
“Aku
tahu yang kau pikirkan, detektif. Kau berpikir bahwa mereka berdua saling
mencintai, maka So-La tidak mungkin membunuh Morikawa. Kuberitahu saja, So-La
tidak mencintai pria itu, bahkan menolaknya mati-matian.”
Keterangan
ini membuat Tanaka berpikir sejenak. So-La tidak menaruh kerterarikan pada
Morikawa? Lalu mengapa dia terluhat -sangat terpukul? Dan kenapa rekan-rekan
Morikawa yang lain tidak terlihat terpengaruh dengan kematiannya?
“Detektif,
maukah kau mendengar teoriku?”
“Boleh
saja, Ogawa-san. Kau yang paling mengerti siapa pegawai-pegawaimu.”
“Teoriku
begini: So-La menolak Morikawa. Morikawa tetap memaksa mendekati So-La. Pada
akhirnya, So-La jengah dan tanpa sengaja
membunuhnya.”
“Teori
yang menarik. Tapi bagaimana caranya membunuh seseorang tanpa sengaja, jika
orang tersebut sedang bermain piano, dan kau tidak ada di sisinya?”
“Lebih
mudah lagi jawabannya: kau merencanakan pembunuhan itu. Barangkali gadis itu
menyelipkan belati di gaunnya. Dia merencanakan pembunuhan terhadap Morikawa
karena jijik kepadanya,”
Tanaka
tertawa terpingkal-pingkal. Wajah Ogawa kembali memerah, hinaan besar dari
Tanaka terasa menusuknya.
“Ogawa-san,
saya punya dua usulan: pertama berhentilah membaca cerita-cerita detektif
pici-san. Kedua, jangan pernah bepikir untuk bekerja sebagai polisi atau
detektif, seberapa tajam pun anda pikir analisa anda.”
Ogawa
menyumpah serapah, dan Tanaka menpersilahkannya pergi sebelum memanggil saksi
berikutnya.
“Im
So-La-san, silahkan masuk..”
***
Kesaksian Im So-La
Penyanyi
Bar Jazz Hands
Umur:
24 Tahun.
Gadis
itu masuk, tampak gemetaran meski tubuhnya terbungkus jaket. Dari balik jaket
itu, manik-manik gaunnya memantulkan cahaya lampu. Rambut cokelatnya yang
tadinya ter-sanggul ketat di kepala kini terlihat berantakan dan lepas dari
ikatannya, dan matanya terlihat seolah habis menangis.
Ketika
gadis itu duduk di hadapannya, ia kembali menangis. Tanaka tertegun. Gadis ini
barangkali tidak bisa menyakiti seekor lalat pun, kalau dilihat dari
pembawannya. Sembari tetap menjaga jarak, Tanaka mengulurkan tangannya untuk
menepuk-nepuk punggu Im So-La.
“S-saya
tahu kalau nama saya tertulis dalam pe-san kematian korban.....tapi percayalah,
detektif, saya tidak melakukannya!”, ia menjerit, kemudian menangis lagi.
Tanaka mendesah. Tentu saja gadis ini tidak melakukannya. Kalau semua sesuai
dengan apa yang ada di depan mata, ia sudah pulang dari tadi.
“So-La-san,
saya tidak menuduh anda membunuh Morikawa-san, akan tetapi, saya butuh ala-san
yang baik supaya saya tidak menuduh anda”, Tanaka meletakkan tangannya di
pundak wanita itu, mencoba menenangkannya.
Gadis
itu terdiam sejenak, sebelum berhenti menangis sepenuhnya. Ia menarik nafas
panjang, dan Tanaka menyodorkan segelas air. Ia tidak yakin gadis ini suka
kopi, lagipula melihat banyaknya airmata yang dikeluarkannya, jelas ia lebih
membutuhkan air. So-La meneguk air itu dengan perlahan-lahan, kemudian terdiam.
“Sudah
siap?”
“Sudah.”
“Baik,
pertanyaan pertama: di mana kau saat pembunuhan terjadi?”
“Saya
sedang bersiap-siap untuk pulang, karena bar ini tutup jam dua pagi. Ketika
saya hendak berganti baju, saya mendengar jeritan dari arah panggung. Kemudian
saya melihat Emiko berlutut, menangisi Hotaru-kun....dan saya berlari
menghampirinya. Baju saya terkena darahnya, tapi baju Emiko-san tidak.”
Tanaka
mendengarkan keterangan itu dengan saksama. Ada yang ganjil di sini, pikirnya.
Kesaksian Ogawa-san tidak menyebutkan soal So-La sama sekali. Seakan So-La
sejak awal memang tidak ada di lokasi. Ia bahkan tidak mendengar suara nyanyian
So-La. Tapi memang ada noda darah kering di baju gadis itu.
“Lalu?”
“Teriakan
saya dan Emiko-san membuat Ogawa-san keluar dari ruangannya. Beliau menggerutu
sejenak, sempat menendangi mayat itu agar bangun. Tapi, Taguchi-kun
membentaknya dan berkata untuk segera menelepon polisi.”
“Dan
begitulah kasus pembunuhan ini sampai ke tanganku.”
So-La
menautkan jari-jarinya, kemudian menundukkan kepalanya. Tanaka memandangnya
lekat-lekat. Bagaimana bisa gadis ini berakhir menjadi pesan kematian
seseorang? Apa yang membuat nama Im So-La menjadi sederetan nada yang berarti
pesan kematian?
“Im
So-La-san, apakah antara anda dengan almarhum Morikawa Haruto mempunyai
hubungan khusus? Hubungan di luar pertemanan antar rekan kerja?”
So-La
menggigit bibirnya, meremas-remas ujung jaketnya, kemudian berkata lirih,
“Kami
hampir menjadi sepasang kekasih.”
Kening
Tanaka berkerut, “Hampir?”
So-La
menarik nafas panjang, lalu meneruskan dengan suara enggan. “Kami bertemu di
bar ini sekitar dua tahun yang lalu. Waktu itu, Ogawa-san sedang mencari
pemusik untuk bar-nya yang baru. Bar-nya bertemakan jazz, maka saya mencoba
untuk audisi sebagai penyanyi. Kebetulan, saya mempunyai pengalaman bernyanyi
jazz sewaktu di sekolah menengah atas”, So-La tersenyum sedih, seperti teringat
kenangannya bersama Morikawa.
“Hotaru-kun
waktu itu sedang dalam masa-masa sulitnya, ia baru saja keluar dari sekolah
musik karena merasa musik klasik bukanlah jalannya. Tapi, ia tidak punya
kemampuan lain untuk melanjutkan hidup selain bermusik.”
“Ketika
audisi dilakukan, penyanyi dan pemain musik dipasangkan. Saya berpasangan
dengan Hotaru-kun.....dan duet kami begitu dikagumi oleh Ogawa-san. Beliau
berkata seakan kami adalah belahan jiwa dalam bermusik.”
“Setelah
setahun bekerja bersama, kami menjadi dekat. Saya dan dia sama-sama mempunyai
ketertarikan terhadap sastra lama, dan kami sering mendiskusikan hal itu
selepas maupun menjelang jam kerja. Sampai suatu hari.....ia membuatkan sebuah
lagu untuk saya, dan mengatakan perasaanya pada saya.”
“Lalu?
Bagian mana dari kisah ini yang membuat anda hampir menjadi kekasihnya?”
“Saya
menolaknya, detektif. Karena saya.....saya.......”
Gadis
itu menangis lagi. Tanaka sedikit bingung ingin berbuat apa. Gadis ini
benar-benar terpukul, tapi ia tidak mengerti harus menghiburnya, atau bersikap
professional dalam tugasnya sebagaimana pekerjaanya. Pada akhirnya, ia hanya
diam, menanti So-La menghentikan sendiri tangisannya.
“Detektif....saya
berbohong kepada anda.”
Tanaka
tersentak. Apalagi maksud gadis ini?
“Hari
itu, saya tidak berada di bar ini. Itu
karena saya berada di—“
***
Kesaksian Emiko Maki
Koki
Bar Jazz Hands
Umur:
35 tahun.
“Apa
saya masih harus berbicara lagi, detektif? Pesan kematian itu jelas-jelas
menunjukkan nama Im So-La”, caranya Emiko menyebut nama itu persis sekali
seperti ular menyemburkan racun.
“Karena
saya harus tahu, kenapa ada nama seorang gadis yang baru saja mengaku pada saya
bahwa ia tidak ada di tempat ini saat pembunuhan terjadi? Mengapa semua orang
memiliki alibi yang bersebrangan darinya? Dan kenapa semua orang begitu
bersemangat menduhnya?”
Tanaka
mencondongkan badannya hingga mendekati Emiko, “Kau tahu sesuatu tentang ini
Emiko-san?”
Emiko
mendengus, “Untuk apa aku mengetahuinya? Dengar ya, detektif, kami tidak
menyukai Im So-La. Jangan sampai tangisan dan wajah manisnya menipumu. Itu lah
yang terjadi pada Hocchan dulu.”
“Hocchan?
Memang sedekat apa anda dengan almarhum?”
“Saya
dan dia hampir menjadi sepasang kekasih.”
Dua
wanita dalam satu malam yang mengaku hampir menjadi kekasih Morikawa
Haruto. Keduanya sama-sama mencurigakan,
dan Tanaka tak mengerti yang mana yang harus ia dengarkan.
“Itu
benar. Barangkali si jalang So-La itu telah menceritakan mengenai kisah cintanya
kepada bapak. Jalang itu tidak berhak karena aku—“
“Tunggu
dulu, Emiko-san. Saya berada di sini bukan untuk mendengarkan kisah cinta anda.
Saya ingin bertanya tentang kematian Morikawa. Pada waktu kejadian, anda sedang
berada di mana?”
“Saya
sedang berada di dapur. Memasak. Membereskan barang-barang. Anda bisa bertanya
pada Taguchi, ia sempat melihat saya di dapur sebelum kejadian itu, saat hendak
pamit pulang.”
“Baiklah.
Emiko-san, anda-lah yang menemukan mayat Morikawa pertama kali. Apakah anda
mengingat ada sesuatu yang aneh saat itu?”
“Tidak
ada. Saya berpikir ia tertidur saat bermain piano, namun saat saya guncang
tubuhnya, ia ambruk. Ada pisau menancap diantara perut dan tulang rusuknya.
Saya menemukan kertas partitur yang kemudian saya serahkan kepada polisi,
bernoda darah.”
Sejauh
ini, keterangannya sama dengan apa yang ditemukan polisi. Tapi di mana Im So-La
saat kejadian ini?
“Lalu,
bagaimana dengan So-La? Ogawa-san berkata bahwa dia melihatmu dan So-La
menangisi Morikawa?”
“Jalang
itu memang menangis bersama saya, tak lama setelah ia datang dengan gaun
bernoda darah. Tidak ada yang tahu ia datang dari mana, tahu-tahu ia masuk
melalui pintu dan berteriak-teriak memanggil nama Hocchan.”
Tanaka
mulai mengerti duduk perkaranya. So-La memang tidak ada di tempat saat
pembunuhan terjadi. Tapi kenapa namanya bisa ada di pesan kematian? Bukti-bukti
yang ada, keterangan para saksi yang bertentangan, membuatnya tiba-tiba sakit
kepala.
Ia
merakum kepalanya dalam kedua telapak tangan, sebelum meminta Emiko memanggil
Taguchi Igoo.
Saksi
terakhirnya.
Semoga
kasus ini ada kemajuannya.
***
Kesaksian Taguchi Igoo
Bartender
Bar Jazz Hands
Usia:
21 tahun.
“Sejujurnya, detektif, aku tidak
tahu apa-apa.”
Matilah
aku, pikir Tanaka. Tapi anak muda di depannya ini memang bukan tipikal yang
peduli dengan sekitarnya, terlebih lagi dengan lingkungan bekerjanya sekarang.
Tanaka tidak menyalahkannya, bertemu tiga puluh menit dengan Ogawa sudah
membuatnya ingin meninju lelaki itu.
Tanaka
menghela nafas, “Kalau begitu, beritahu saja apa yang kau tahu.”
“Baiklah. Sekitar pukul setengah dua, aku berpamitan
kepada Emi-chan untuk pulang; Selain karena sudah tidak ada tamu, aku juga
harus menjenguk ibuku. Ibuku dirawat di rumah sakit karena sirosis hati.”
“Turut
berduka cinta untuk keadaan ibumu. Lanjutkan.”
“Ketika
saya hendak pulang, saya mendengar suara jeritan Emi-chan. Dan saya
menemukannya tengah menangisi Morikawa. Juga si bedebah Ogawa yang malah
menendang-nendang mayat Morikawa dan memaksanya untuk kembali bangun. Saya
meradang, dan pada akhirnya Pak Tua sialan itu mau juga menelepon polisi untuk
melaporkan pembunuhan.”
“Yah
dan begitulah aku berakhir di sini. Ada lagi yang bisa kau tambahkan? Seperti
apa hubungan kalian sebagai rekan kerja?”
“Kami
tidak terlalu dekat. Aku dan dia punya kesamaan yang sama: menggandrungi musik
jazz. Di luar itu, kesamaan kami bisa dihitung jari. Dia sangat menggemari
sastra-sastra Jepang lama: haiku, waka, nikki, monogatari....aku tidak mengerti
bagaimana ia membacanya. Ia juga punya obsesi yang tidak sehat terhadap hal-hal
berbau spionase. Jujur saja, menghadapi hobinya yang satu itu aku menyerah.
Hanya Im So-La yang sanggup menghadapinya.”
“Dan
bagaimana pendapatmu tentang Im So-La?”
“Gadis
yang baik, menurutku. Aku tidak mengerti kenapa Emiko begitu membencinya.
Sedang untuk Pak Tua itu...yah, dia hanya menganggap So-La sebagai pemuas
nafsunya saja. Aku mengetahui ini dari Morikawa, omong-omong. Gajinya dikurangi
karena ia pernah membela So-La yang dilecehkan Tua Bangka sialan itu.”
Tanaka
mengepalkan tangannya di bawah meja. Jadi benar, kakek mesum itu memang
melecehkan Im So-La. Ia tidak salah menafsirkan pandangan mata
predator yang diberikan pada Im So-La tadi.
“Sejujurnya,
aku lebih membenci dia daripada Im So-La. So-La mungkin terlihat aneh, cengeng,
dan selalu bergantung pada Morikawa. Tapi, itu karena dia selalu diganggu oleh
Tua Bangka itu. Aku sendiri terlalu sibuk dengan tugasku untuk melakukan apa pun,
jadi Morikawa yang biasanya menyelamatkan So-La.”
“Ada
lagi yang ingin kau katakan mengenai kasus ini, Taguchi-san?”
“Aku
benci pekerjaanku, detektif.”
“Eh?”
Taguchi
tertawa, tawanya pahit dan hambar. “Detektif, ibuku tengah bertarung meregang nyawa
melawan sirosis hati. Aku bekerja di bar, menyajikan minuman keras yang menjadi
sumber penyakitnya. Setiap gelas yang kusajikan, mengingatkanku pada ibuku yang
terbaring di rumah sakit, memberikanku rasa bersalah yang tidak terkira. Setiap
malam aku berpikir telah menyajikan racun untuk orang-orang yang ada di bar
ini.,” mata kosong Taguchi menatap mata Tanaka lurus-lurus. Iris hitamnya
seakan menusuk langsung ke dalam jiwa Tanaka.
“Apakah
kau berpikir, dengan keadaan seperti ini, aku benar-benar bisa bahagia?”
***
Tiga
hari.
Tiga
hari penuh dan sejauh ini investigasi tim-nya belum menemukan hasil apa pun.
Tanaka benci meminta bantuan, tetapi ia benar-benar tidak tahu harus berbuat
bagaimana lagi. Dengan berat hati, ditekannya nomor ponsel Inspektur
Takahashi. Pada dering kelima, seseorang
menjawab telpon itu.
“Moshi-moshi, Poaro[2]-san!”
Tanaka
menghela nafas, lega. Setidaknya yang mengangkat teleponnya bukan Takahashi
langsung. Panggilan ini adalah panggilan akrab untuknya dari Vivian Nakagawa,
keponakan Inspektur Takahashi. Vivian baru duduk di kelas satu sekolah menengah
atas, namun lingkungannya dan minat besarnya pada cerita-cerita misteri
membuatnya sering ikut membantu penyelidikan.
Mungkin,
Tanaka bisa meminta bantuannya.
“Ah, moshi-moshi, Maapuru-[3]san!”
Ini
adalah panggilan rahasia diantara mereka. Gadis kecil itu memanggilnya Poirot,
dan sebagai gantinya, ia memanggil Vivian Marple. Perlahan-lahan, ia
menceritakan kronologi pembunuhan itu pada Vivian. Gadis itu terdengar merespon
dengan persetujuan, sebelum tiba-tiba memutuskan sambungan telepon.
Yang
berarti, Inspektur Takahashi mendapatinya mengangkat teleponnya. Tanaka
menunggu dengan gelisah. Ia sama sekali tidak ingin Takahashi tahu bahwa ia
sedang kesulitan dengan kasus ini. Jika inspektur tahu, maka segala sumpah
serapah, belum lagi penurunan nilai tunjangan akan jadi risikonya.
Untungnya,
setelah tak berapa lama ponselnya bergetar.
“Temui aku di PH, ya”—
Tanaka
tersenyum. PH adalah istilah Vivian untuk menyebut kantor polisi—ia menyebutnya
Police House. Namun itu juga berarti sebuah kafe yang berada di seberang kantor
polisi itu, Pink House. Gadis pintar, pikir Tanaka. Tentu pamannya tidak akan
curiga melihat Vivian pergi berdua dengannya ke Pink House.
Hubungannya
dengan Vivian memang bisa dibilang cukup dekat, sebagaimana adik dan kakak.
Vivian sering memintanya untuk menemaninya pergi, dan tak jarang Takahashi
menitipkan keponakannya pada Tanaka. Minami tidak pernah keberatan, ia tahu
bahwa Vivian jauh terlalu muda untuk Tanaka.
Tak
berapa lama kemudian, Tanaka sampai di kantornya, ia segera memberitahu Vivian,
via pesan singkat, bahwa ia sudah sampai.
“Ah, kau salah Poaro-san! Maksudku PH yang
di seberang!”
“…..kau
minta aku traktir, Maapuru-san?”
“Jasa
seorang detektif tidak gratis, kan?”
Tanaka
menggelengkan kepala. Baiklah, kalau memang itu yang dibutuhkannya untuk
mendapat bantuan dari Vivian, ia rela mentraktir gadis itu.
Lagipula,
pikirnya sebanyak apa makanan yang bisa dihabiskan oleh seorang gadis remaja?
***
Pertemuan
Vivian Nakagawa dan Hoshiura Tanaka
8
Januari 2019
Kafe Pink House
8:30
Tanaka
menatap meja di depannya, mulutnya menganga tidak percaya. Di meja itu tergelar
aneka hidangan, pancake yang
bertumpuk-tumpuk, es krim beraneka rasa, dan beberapa gelas parfait. Seorang gadis berpotongan rambut bob sedang menyesap segelas parfait, wajahnya terlihat senang
ketika melihat Tanaka datang.
“Poaro-san!
Akhirnya kau datang juga!”
“Vivian….kau
yang memesan semua ini?”
“Hei,
hei, jangan begitu. Aku kan butuh gula untuk berpikir!” sergah Vivian sembari
menyendok parfaitnya. Tanaka
menggeser kursi di depan gadis itu, memesan segelas kopi pahit hangat kepada
pelayan, dan menunggu Vivian membuka percakapan dengannya. Gadis itu menelan
sepotong buah jeruk sebelum bertanya,
“Kasus
apa?”
“Pembunuhan.
Pembunuhan yang sangat aneh….karena semua orang mempunyai alibi. Tapi mereka semua menuduh satu orang yang
sama, yang bahkan tidak ada di Tempat Kejadian Perkara. Satu-satunya bukti yang
mengarah kepadanya hanya pesan kematian korban, tapi bagaimana korban bisa
menulis pesan kematian saat ia bahkan tidak melihat tersangka?”
“Woah,
woah, woah….pelan-pelan Poaro-san.”
“Baiklah.
Aku lupa kau tidak ikut penyelidikan kali ini. Seorang pianis ditemukan tewas
di sebuah bar tiga hari yang lalu, pada jam dua dini hari. Saksi-saksinya, para pegawai dan pemilik bar,
seperti bersekongkol menuduh penyanyi bar itu, Im So-La sebagai pembunuhnya. Di
tangan korban sendiri, tergenggam sebuah kertas partitur bertuliskan nada Sol
dan La, seolah langsung menuduhnya.”
“Lalu,
apa masalahnya?”
“Pertama,
kalau hanya itu petunjuknya, tentu saja terlalu mudah untuk dipecahkan, dan aku
tak mau menahan orang yang tak bersalah,” Lagi,
pikirnya tapi kata itu tak diucapkannya.
“Kedua,
semua orang di bar itu punya motif untuk membunuh Morikawa Haruto. Ogawa Yuuto,
pemilik bar itu, dia menyenangi So
La. Kau harus lihat betapa menjijikannya tatapannya terhadap gadis itu. Emiko
Maki, koki bar itu, sangat tidak menyukai So La, tapi sangat mencintai
Morikawa. Buatku itu motif yang cukup untuk membunuh Morikawa atas dasar
kecemburuan. Dan Taguchi Igoo, bartendernya, sangat membenci pekerjaannya.
Ibunya juga terbaring di rumah sakit, terkena sirosis hati, jadi mungkin saja
ia melakukan pembunuhan untuk menjatuhkan reputasi tempat itu dan mendapat
pekerjaan yang lebih baik.”
“Lalu,
di mana pembungkusnya?”
‘Pembungkus’
adalah istilah mereka untuk menyebut barang bukti. Dari balik kantong jasnya,
Tanaka mengeluarkan selembar plastik yang di dalamnya terdapat sebuah partitur
bernoda darah. Partitur itu, seperti kata Tanaka, bertuliskan nada sol, la, dan
sebuah tanda berhenti berbentuk topi.
Vivian
mengerutkan keningnya, “Kau tahu, Poaro-san. Partitur ini agak aneh. Hampir
tidak ada notasi musik yang justru diawali dengan tanda berhenti. Biasanya, tanda berhenti diletakkan di akhir
birama, bukan di awalnya.”
“Ada
gunanya juga kau bermain biola, Maapuru-san. Ada lagi hal yang ingin kau beri
tahukan kepadaku?”
“Kau
punya sepasang sarung tangan?”
Tanaka
merogoh kantongnya dan mengambil sepasang sarung tangannya. Pelan-pelan Vivian
membuka plastik pembungkus partitur itu, mengeluarkannya, dan mengamatinya
masak-masak. Kemudian, ia melepaskan sesuatu dari baris kedua partitur, di
bawah rangkaian not yang adalah pesan kematian Morikawa. Serangakaian not muncul kembali, kini lebih
rumit.
“Aku
sudah menduga ada yang salah dengan partitur ini. Lihat, serangakaian not balok
lagi. Kemungkinan, pesan kematian yang asli.”
Tanaka
terkejut. Ia memang tidak memperhatikan lebih lanjut barang bukti itu. Kalau
diperhatikan lebih lanjut, garis-garis yang ada di bawah pesan kematian itu
memang lebih pudar, dan sedikit miring. Rupanya itu adalah tambahan dari
pelaku, untuk menutupi pesan ini.
“Poaro-san,
bisa jelaskan lebih jauh soal seperti apa Morikawa Haruto ini?”
“Sejauh
yang aku ingat dari para saksi: ia memainkan piano di bar itu setelah keluar
dari sekolah musik, ia menyukai sastra lama, punya masalah dengan bos-nya
karena membela So-La yang dilecehkan olehnya, dan punya ketertarikan dengan
hal-hal berbau spionase. Baik So-La dan Emiko sama-sama mempunyai perasaan
kepadanya.”
Vivian
bersiul kecil, “Pianis pasti populer, ya. Barangkali karena jari-jari mereka
terlihat amat menarik saat bermain. Ah, fantasi seorang gadis~”
Tanaka
mengerutkan wajahnya tanda tak suka. “Nil
nisi bonum[4],
Maapuru-san.”
“Ya,
ya. Jangan terlalu serius Poaro-san. Aku kan hanya bercanda sekaligus
membicarakan soal cowok-cowok pianis di kelasku. Omong-omong, sepertinya aku
mengerti apa maksud kode ini.”
“Kode,
maksudmu rangakaian not balok ini adalah kode?”
“Yup!
Kau lihat ini, empat not bulat ini adalah nada sol, la, dan si yang berurutan.
Diteruskan dengan nada la, do, la, la, dan sol, sol. Jelas ini sebuah kode!”
“Kode
harus mempunyai pola, Maapuru-san. Dan selain pengulangan nada di akhir, aku
tidak melihat adanya pola dalam penulisan kode ini.”
“Kau
lupa, bahwa penulisan not musikal dalam bahasa Jepang punya istilahnya
sendiri.”
Kesadaran
memenuhi mata Tanaka, “Iroha”,
bisiknya.
“Ya,
benar sekali. Iroha ni hoheto, sebuah
puisi yang ditulis pada zaman Heian, digunakan sebagai kode pada Perang Dunia
pertama, dan sekarang, dia ada di hadapan kita.”
“Yang
perlu kita lakukan hanya mengubah nada-nada ini. Si menjadi 7, do menjadi 1, la
menjadi 6, sol menjadi lima, jika kita uraikan, makanya menjadi 716655, dan
bila kita masukkan, ini ke dalam tabel Iroha,
itulah pesan sebenarnya.”
Tabel
Iroha yang dimaksud adalah sebuah tabel berukuran tujuh kali tujuh, yang di
setiap kotaknya terdapat silabel dalam puisi Iroha ni hoheto. Tanaka memaki dirinya sendiri, dia dulu sempat
belajar soal kode ini; kenapa dia bisa lupa?
Tanaka
memandang hasil penerjemahan kodenya, setengah tak percaya.
“E….mi….ko?”
Vivian
tersenyum, “Aku punya teori, tapi kau harus mengizinkanku ikut menangkap para
tersangka nanti.”
***
Penangkapan tersangka
Bar
Jazz Hands
9
Januari 2019
22:00
Bel berdenting menandakan kedatangan
mereka di bar itu. Melalui sudut matanya, Tanaka menangkap raut waspada para
pegawai. Taguchi berhenti mengelap gelas-gelasnya. So-La berhenti memainkan
piano sejenak, matanya ketakutan. Ogawa,
yang sedang memandangi So-La dari sampingnya mendadak terbangun dari kursinya,
terbelalak.
“Ah!
Detektif! Selamat datang kembali ke bar kecil kami ini. Apakah anda sudah
menemukan pelakunya? Ohh, datang bersama siapa anda kali ini? Kekasih?” nada
suara Ogawa terdengar dibuat-buat, dan Tanaka menahan rasa muaknya. Laki-laki
ini, sepertinya ia hanya mempedulikan reputasi bar-nya saja. Pasti jumlah
pengunjung di sini menurun drastis paska tersiarnya kabar pembunuhan Morikawa.
“Maaf,
saya bukan kekasihnya. Saya adiknya. Hajimemashite,
Tanaka Jane desu[5].”
Tanaka
mendengus geli. Memang seperti itu rencananya,
Vivian akan mengaku sebagai adiknya, menggunakan nama palsu. Kemudian
mereka akan bersama-sama membongkar kasus ini.
“Ah,
Jane-chan! Silahkan, silahkan, perlu minum apa?”
“Maaf,
saya masih di bawah umur, jadi belum boleh minum minuman keras. Bisa tolong
panggilkan saja Emiko-san yang sedang ada di dapur? Saya dan kakak saya perlu
bicara dengan anda sekalian.”
Hilang
sudah raut wajah ramah Ogawa. Ia berteriak pada para karyawannya untuk
berkumpul di ruang utama, dalam sekejap, tiga pasang mata penuh ketakutan dan
kemarahan balik memandang ke arah Tanaka.
“Sekarang
apalagi? Kau sudah mendapat cukup bukti untuk menahan jalang ini?” Emiko
bersuara dengan lantang. Vivian tersenyum dingin, mengeluarkan partitur dari
dalam tasnya.
“Sebaliknya,
Emiko-san. Kakak saya memiliki bukti yang cukup untuk menahan anda,” Vivian menyodorkan partitur itu.
Emiko menaikkan alisnya, “Bukankah yang tertera di partitur itu adalah nama
So-La? Apa hubungannya denganku?”
“Masa,
coba baca lagi baris kedua partitur itu, Emiko-san”, kali ini Tanaka ikut
bersuara. Emiko melihat kertas partitur itu, matanya membelalak, lalu
memandangi Taguchi dengan tatapan benci.
“Kau…..pengkhianat!!!”
“Apanya
yang berkhianat, Emi-chan? Kau ingin membunuh lelaki itu karena tidak rela dia
dimiliki oleh So-La. Kau bahkan memfitnahnya dengan memberikan pesan kematian
palsu, lalu aku yang kau tuduh berkhianat?”
“KAU
SUDAH BERJANJI. KAU INGIN MENGHANCURKAN BAR SIALAN INI!!”
“DAN
SEMUA YANG ADA DI DALAM, EMI, TERMASUK KAU DAN HIDUPMU!!!”
“TUNGGU-TUNGGU!
Ada yang berkenan menjelaskan padaku, ada apa ini sebenarnya?” suara Ogawa
terdengar kebingungan. Tanaka dan Vivian berpandangan, lalu bergantian menjelaskan.
“Tanggal
5 Januari, kedua orang ini merencanakan pembunuhan atas Morikawa Haruto. Jam
satu malam, ketika pengunjung telah sepi, Emiko Maki mengambil pisau dapur,
menusuk Morikawa, namun tidak hingga mati. Ia mendudukan kembali mayat Morikawa
sehingga tampak seperti tertidur saat bermain piano, lalu menyuruh Taguchi
menelepon So-La, mengatakan bahwa Morikawa terbunuh.”
“Setengah
jam kemudian, So-La datang. Ia melihat bahwa Morikawa belum mati, dan berusaha
menghentikan pendarahannya dengan gaunnya, dari situlah darah di gaun So-La
berasal. Sementara kedua wanita itu sibuk menangisi Morikawa, Taguchi mengurus
pesan kematiannya. Ia sengaja menulis nama Emiko, bukan So-La, karena ia tahu
Emiko akan memfitnah So-La.”
“Teriakan
itu mengejutkan Ogawa, dan tibalah kasus itu di tanganku. Sebuah kesialan,
menurutku. Karena seperti yang kalian lihat, aku punya asisten yang sangat
lihai.”
“Dan
bukti apa yang kau punyai mengenai itu, hah?” kali ini Ogawa meradang. Ia tidak
melihat kilatan pisau yang hampir mengenainya. Tanaka menariknya, dan Taguchi
menghela nafas tersengal, pisau terjatuh dari tangannya.
Vivian
mengambil pisau itu, tangannya bersarung tangan. “Lihat, bercak-bercak darah di
gagang pisau. Aku penasaran, darah siapakah ini?”
Baik
Emiko dan Taguchi terlihat pias, Taguchi tertawa hambar dan Emiko jatuh
terduduk di kursinya. Tanaka segera mengambil dua set borgol yang telah ia
siapkan,
“Emiko
Maki, anda ditahan atas tuduhan pembunuhan terhadap Morikawa Haruto. Taguchi
Igoo, anda ditahan atas tunduhan membantu pembunhan terhadap Morikawa Haruto,”
ia segera menggiring mereka menuju ke kerumunan mobil polisi yang sudah
menunggu di depan bar.
Namun,
Tanaka belum selesai. Setidaknya, Jane Tanaka belum.
“Nah,
Im So-La, sekarang dua orang itu sudah pergi, ada yang mau kau katakan padaku
soal utangmu pada Ogawa, yang dikatakannya harus dibayar dengan badanmu?”
So-La
mengangguk lemah, sementara Ogawa terlihat seperti ingin mencekiknya. Ia
menceritakan soal utang yang ia punya pada Ogawa, terpaksa harus ia ambil
karena ia kehabisan dana di sini. Utang yang dipakainya untuk menutupi biaya
ayahnya yang masuk rumah sakit karena terkena TBC tulang. Dan tentang Ogawa
yang memaksanya melacurkan diri.
Vivian
mengeluarkan borgol yang ada di tangannya, “Secara teknis aku tak bisa
melakukan ini, tapi aku suka mengatakannya: Ogawa Yuuto, kau ditahan atas
tuduhan memperjual belikan perempuan”, kemudian ia menampar pipi pria tua itu,
keduanya, dengan keras.
Vivian
berpaling pada So-La, “Aku beri kau kehormatan, So-La-san”
Im
So-La mematahkan hidung pria itu.
***
Vivian,
Tanaka, dan Im So-La memandang ketiga orang itu, digelandang menuju mobil
polisi. So-La berkali-kali berterima kasih pada Vivian dan Tanaka, yang dibalas
Tanaka dengan senyum tulus dan pelukan hangat dari Vivian. “Jangan ragu untuk
menelepon kami kalau ada yang menjahatimu lagi, kami di pihakmu, So-La-san.”
Tanaka
mengantarkan So-La menuju asramanya, sebeluh mengantarkan Vivian ke rumah
pamannya lagi. Gadis itu tidak bercerita soal hari ini, jadi ia akan menyelinap
melalui pintu belakang.
“Kau
yakin, tidak mau menginap di apartemenku dan Minami saja?”
“Tidak
usah, Poaro-san. Minami pasti merindukanmu,” mata Vivian berkelip nakal. Tanaka
tertawa.
Malam
ini, ia akan tertidur lelap di pelukan Minami.
***
[1]Mohon maaf (Jepang)
[2]
Penyebutan nama Poirot, tokoh
detektif dari novel Agatha Chrisie dalam lidah orang Jepang.
[3]
Penyebutan nama Miss Marple,
tokoh detektif dari novel Agatha Christie dalam lidah orang Jepang.
[4]
Ungkapan dalam bahasa Latin,
berasal dari kalimat De mortuis nil nisi
bonum dicendum est (mengenai orang mati, tak ada yang bisa dikatakan selain
kebaikan), bisa juga berarti ‘jangan membicarakan keburukan orang yang sudah
mati’
[5]
Salam kenal, nama saya Jane
Tanaka. Nama ini diambil Vivian dari nama panjang Miss Marple, Jane Marple.
Komentar
Posting Komentar