Laki-laki tua itu menghampiri salah satu lapak kayu di pasar malam yang hampir tutup. Dia tidak terlambat, dia justru tepat waktu. Saat pasar hampir tutup adalah waktu ramai-ramainya pengunjung, dan tubuh tua dan lelahnya tak perlu berlama-lama menjajakan dagangan. Ia meletakkan tas kainnya yang lusuh. Tas itu ia wariskan dari ayahnya, ayahnya mendapat dari kakeknya, dan begitu seterusnya, hingga mungkin, jika dilacak, tas itu hampir sama tuanya dengan seisi dunia. Benda setua itu mengandung kebijaksanaannya sendiri. Karena itulah, kakek tua itu tak pernah mengganti tas-nya, betapa pun lusuhnya. Dari dalam tas hitam itu, ia mengeluarkan barang dagangannya. Permen-permen loli cerah dengan berbagai ukuran, dikeluarkan dan dijajarkannya satu per satu di atas meja. Ia tidak punya tempat menata yang istimewa seperti lapak-lapak di sampingnya, yang menata dagangan mereka dengan rak-rak plastik cerah dan kerlap-kerlip lampu. Ia hanya menata--menghamburkan, tepatnya--pe...