Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2019

Lapak Permen Kedukaan.

Laki-laki tua itu menghampiri salah satu lapak kayu di pasar malam yang hampir tutup. Dia tidak terlambat, dia justru tepat waktu. Saat pasar hampir tutup adalah waktu ramai-ramainya pengunjung, dan tubuh tua dan lelahnya tak perlu berlama-lama menjajakan dagangan. ⁣⁣ ⁣⁣ Ia meletakkan tas kainnya yang lusuh. Tas itu ia wariskan dari ayahnya, ayahnya mendapat dari kakeknya, dan begitu seterusnya, hingga mungkin, jika dilacak, tas itu hampir sama tuanya dengan seisi dunia. ⁣⁣ ⁣⁣ Benda setua itu mengandung kebijaksanaannya sendiri. Karena itulah, kakek tua itu tak pernah mengganti tas-nya, betapa pun lusuhnya. ⁣⁣ ⁣⁣ Dari dalam tas hitam itu, ia mengeluarkan barang dagangannya. Permen-permen loli cerah dengan berbagai ukuran, dikeluarkan dan dijajarkannya satu per satu di atas meja. Ia tidak punya tempat menata yang istimewa seperti lapak-lapak di sampingnya, yang menata dagangan mereka dengan rak-rak plastik cerah dan kerlap-kerlip lampu. Ia hanya menata--menghamburkan, tepatnya--pe...