Bulan diatas kuburan. -Sitor Situmorang. Bulan hanya menunaikan tugasnya, sebagai makhluk-Nya untuk mengikuti garis edarnya. Malam itu, ia menampakkan purnamanya diatas langit ibukota. Dipandanginha warga-warga ibukota pada hari raya, hampir semua berwajah gembira menyambut hari kemenangan. Bulan tersenyum lembut. Hingga pandangannya menyapu sudut kota yang suram, pekuburan. Rumah masa depan. Ia dapat mendengar jeritan jiwa-jiwa yang tersisksa, namun juga dapat mendengar kebahagiaan jiwa-jiwa yang tak sabar ingin berjumpa dengan Rabb-nya. Sinar pandangnya menyapu seorang gadis kecil, kerudung putih membingkai wajahnya. Gadis itu mengenggam sebuah kertas, sepertinya sobekam dari buku cetak bahasa Indonesia. Gadis itu menatap nisan di depannya, senyumnya lemah, dan ia tampak menahan tangisnya. Bulan mengenal gadis itu. Hampir setiap senja dan malam hari, ia akan menghampiri sebuah makam--makam ayahnya--dan membacakan satu atau dua bait puisi, berdoa, lalu pergi. Malam ini se...