Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Lapak Permen Kedukaan.

Laki-laki tua itu menghampiri salah satu lapak kayu di pasar malam yang hampir tutup. Dia tidak terlambat, dia justru tepat waktu. Saat pasar hampir tutup adalah waktu ramai-ramainya pengunjung, dan tubuh tua dan lelahnya tak perlu berlama-lama menjajakan dagangan. ⁣⁣ ⁣⁣ Ia meletakkan tas kainnya yang lusuh. Tas itu ia wariskan dari ayahnya, ayahnya mendapat dari kakeknya, dan begitu seterusnya, hingga mungkin, jika dilacak, tas itu hampir sama tuanya dengan seisi dunia. ⁣⁣ ⁣⁣ Benda setua itu mengandung kebijaksanaannya sendiri. Karena itulah, kakek tua itu tak pernah mengganti tas-nya, betapa pun lusuhnya. ⁣⁣ ⁣⁣ Dari dalam tas hitam itu, ia mengeluarkan barang dagangannya. Permen-permen loli cerah dengan berbagai ukuran, dikeluarkan dan dijajarkannya satu per satu di atas meja. Ia tidak punya tempat menata yang istimewa seperti lapak-lapak di sampingnya, yang menata dagangan mereka dengan rak-rak plastik cerah dan kerlap-kerlip lampu. Ia hanya menata--menghamburkan, tepatnya--pe...

Kalian yang ada di Kepala

Kalian yang ada di kepala Oleh: Matsurika “Off course it’s happening inside your head, Harry, but why on earth should that mean that it is not real?” -Albus Dumbledore (J.K Rowling: Harry Potter and the Deathly Hallows) Kalian yang ada di dalam kepala, Bercengkrama, menjalin kisah-kisah “Tapi, kami tidak nyata” Begitukah? Kalian yang ada di dalam kepala, “BERISIK!” bisikku sendiri Ribut sekali minta dituliskan Tidak tahu, bahwa aku sedang keletihan Kalian yang ada di atas kertas, Bukannya berdamai, malah makin ramai “Kamu bukan Tuhan di sini, wahai Pencerita” Lalu aku apa? Barangkali sisa reruntuhan kuil Dewa Kalian yang ada di atas kertas, Ingin mencari takdir-takdir sendiri Memusingkan penulis yang keracunan Bergelas-gelas kopi Kalian yang ada di dalam buku, Aku merindukan kebijaksanaanmu, Aku ingin meminjam keberanianmu, Dan mengabulkan harapan-harapanmu “Berhenti minum kopi kebanyakan gula, Wahai pencerita! Kami ...

Kompartemen Terakhir

Kompartemen Terakhir Oleh: Farah Fakhirah Cerita ini terinspirasi dari tagar #JakartaEncounters di media sosial twitter.             Kau melirik jam tanganmu, lima menit menuju pukul sembilan malam.             Kau menyumpah-nyumpah, entah kepada ketua organisasimu, pada kepala seksimu, atau kepada dirimu sendiri kau tujukan sumpah serapah ini, kau tak tahu. Yang kau tahu, karena rapat sialan yang menyita sebagian besar waktumu itu, kini kau hanya punya lima menit untuk mengejar kereta terakhir menuju rumahmu.             Beginilah nasib kalau menjadi mahasiswa aktif yang tidak diperbolehkan mengekos, pikirmu. Kau hanya punya dua pilihan: meminta izin untuk pulang terlebih dahulu, karena kereta yang akan mengantarmu pulang tidak akan lagi datang, atau menginap di kosan temanmu, dengan catatan temanmu adala...

Piano Man

Piano Man Hoshiura Tanaka             Jazz Hands Bar and Café             5   Januari 2019             2:30 AM.             Bar itu dipenuhi dengan garis polisi, dan di depannya mobil-mobil polisi terparkir.             Polisi-polisi itu sibuk dengan alat komunikasi mereka masing-masing. Salah satu dari mereka, seorang detektif muda bernama Hoshiura Tanaka, terlihat berlarian ke -sana ke mari di TKP. Ia mencatat keterangan para saksi, meneliti bukti-bukti yang ditemukan tim forensik, dan memeriksa kondisi mayat yang ditemukan.             Sementara ini, dia belum bisa menemukan teori apa pun. Penyelidikan pembunuhan bukalah kisah novel Ra...