Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Dibuang Sayang.

1. Tapi, aku mengerti.  Kami bertiga seperti kelasi-kelasi yang kehilangan nahkodanya.  Mama memenuhi kapal dengan tangisnya,  Kakak melubangi kapal dengan amarahnya,  Dan aku mengendalikan layar dengan sia-sia.  "Ah, anak kecil tahu apa!"  Tapi, aku mengerti. 2. Satu Cangkir Doa  Aku membuatkan secangkir teh,  Lalu mengantarkannya pada Abah.   Farah, ini terlalu manis.   Abah, maaf, gulanya terlebih.   Tidak apa-apa, buatkan saja lagi   Ini, satu sendok saja kuberi.    Hanya satu sendok? Pahit sekali!   Abah, maafkan aku, terus menerus salah,   Hanya untukmu, kuberi satu cangkir doa.  3. Madunya Kedukaan.  Duka itu kekosongan,  Tidak pernah mencapai kepuasan.  Orang-orang berpikir,  Kekosongan itu gelap, Lubang pengap dimana kau terjerembap.  Buatku,  Kekosongan itu begitu putih menyilau...

Keledai Proletar Yang Jatuh Cinta Pada Kuda Poni Kaum Borjuis Bergincu Merah.

Keledai Proletar Yang Jatuh Cinta Pada Kuda Poni Kaum Borjuis Bergincu Merah.                                                 (dan keajaiban-keajaiban lainnya) Didasarkan pada film pendek Paperman . Setiap hari selalu sama. Kayak keledai saja, aku ini. Berangkat kerja, kerja dengan setumpuk kertas-kertas yang aku juga nggak ngerti isinya apa, terus pulang. Naik kereta. Desak-desakan. Masih harus bawa jutaan kertas yang dikasih bos-ku yang gendut, pendek, nggak punya selera humor, dan sama kurang bergajinya seperti aku.   Dia suka marah-marah padaku karena gajinya kurang, kerjannya banyak, istrinya tukang mengamuk, dan cuma aku yang bisa dia marahin. Persis petani tua yang tidak punya apa-apa memarahi keledai tuanya yang juga...

Fortissimo.

 Laki-laki muda itu menggebrak tuts-tuts piano dengan frustrasi. Ia tidak bisa membaca notasi, dan bisingnya ruangan ini telah memecah konsentrasi. Perlahan, ia bangkit dari duduknya, wajahnya memerah menahan amarah, ia berkata, "DEMI KECAMBAH FORTISSIMO, BISAKAH KALIAN TENANG?"  Sekumpulan arwah itu menunduk malu, namun meneruskan keributan itu. Jenis keributan yang amat kecil--angin meniup jendela, kursi-kursi yang bergerak dengan sendirinya. Tidak menakutkan, tidak mengancam, hanya membuat seseorang yang bertelinga peka menjadi gila. Arwah-arwah itu tidak mau mengalah. Laki-laki muda itu telah muncul tiba-tiba di gereja milik mereka, mengusir jemaat, dan bermain piano sepanjang hari. Arwah-arwah tidak menyukainya karena tentu saja, gereja itu milik mereka. Mereka yang telah dikuburkan di pekarangannya, ditinggalkan penduduk desa yang terlalu sibuk memaknai hidup untuk peduli yang mati. Arwah-arwah membalasnya dengan menghantui desa, memaksa penduduknya mengunjung...