Laki-laki muda itu menggebrak tuts-tuts piano dengan frustrasi. Ia tidak bisa membaca notasi, dan bisingnya ruangan ini telah memecah konsentrasi. Perlahan, ia bangkit dari duduknya, wajahnya memerah menahan amarah, ia berkata,
"DEMI KECAMBAH FORTISSIMO, BISAKAH KALIAN TENANG?"
Sekumpulan arwah itu menunduk malu, namun meneruskan keributan itu. Jenis keributan yang amat kecil--angin meniup jendela, kursi-kursi yang bergerak dengan sendirinya. Tidak menakutkan, tidak mengancam, hanya membuat seseorang yang bertelinga peka menjadi gila.
Arwah-arwah itu tidak mau mengalah. Laki-laki muda itu telah muncul tiba-tiba di gereja milik mereka, mengusir jemaat, dan bermain piano sepanjang hari. Arwah-arwah tidak menyukainya karena tentu saja, gereja itu milik mereka.
Mereka yang telah dikuburkan di pekarangannya, ditinggalkan penduduk desa yang terlalu sibuk memaknai hidup untuk peduli yang mati.
Arwah-arwah membalasnya dengan menghantui desa, memaksa penduduknya mengunjungi gereja.
Tapi sekarang, gereja itu telah sepi. Organ tak dimainkan, digantikan dengan piano dan seorang seniman. Ia menggubah lagu sepanjang hari, membuat para arwah gila dalam amarah dan warga desa sumrigah. Arwah kini tidak lagi pongah.
Arwah-arwah itu menyadari bahwa seorang yang tak percaya takkan takut. Maka, dibanding menghantuinya, mereka menganggunya sedikit demi sedikit, menumpulkan indranya.
Pada akhirnya, laki-laki muda itu tak tahan juga.
"Kalian yang memaksa."
Ia bermain.
Dengan lembut, amat sangat lembut.
Sayup-sayup pianonya terdengar ke desa, dan warga desa terbuai. Tungku pembakaran dibiarkan berderak, kusir-kusir terkantuk-kantuk di atas kereta kuda. Arwah-arwah perlahan menenang, menghentikan gangguan.
Ia masih bermain, syahdu. Permainan yang membangkitkan khayalan. Berguling di padang rumput pada hari yang cerah, bersandar pada dada kekasihmu di bawah rindangan pohon. Gadis-gadis muda terkikik, pria-pria muda tertawa-tawa.
Kemudian, secara tiba-tiba, tempo naik, dengan cepat. Rangkaian nada yang brutal, penuh kegalauan, amarah, dan amukan.
Ibu-ibu tersadar dari lamunan dan menemukan tungku terbakar, kusir-kusir menyadari kuda mereka berlari menabrak pohon, dan sudah terlalu terlambat untuk menahannya.
Gadis-gadis muda tersadar bahwa rok mereka tersingkap, dan pria-pria muda tersadar bahwa merekalah yang menyingkapnya.
Musik itu semakin dipenuhi amarah, dan desa itu dipenuhi jeritan, tabrakan, dan kebakaran yang menjalar. Arwah-arwah mengamuk, bergabung dengan arwah penduduk desa yang baru, kebingungan, kemarahan, keputusasaan menjelma menjadi satu.
Laki-laki itu terus bermain, tidak melambatkan tempo hingga tak ada lagi nyawa yang tersisa. Ketika ia memastikan seluruh desa telah wafat, ia meninggalkan gereja.
Kemarahan telah menghancurkan arwah-arwah itu menjadi serpihan, dan tak ada yang tersisa untuk ditangisi dan dikuburkan.
Ia tertawa hambar, dan mengelus-elus alat musik pribadinya, yang jika ditiupnya, berakhirlah segala alam semesta.
Laki-laki muda itu menggenggam sangkakala.
Adaptasi dari: Peniup Seruling dari Hamelin.
"DEMI KECAMBAH FORTISSIMO, BISAKAH KALIAN TENANG?"
Sekumpulan arwah itu menunduk malu, namun meneruskan keributan itu. Jenis keributan yang amat kecil--angin meniup jendela, kursi-kursi yang bergerak dengan sendirinya. Tidak menakutkan, tidak mengancam, hanya membuat seseorang yang bertelinga peka menjadi gila.
Arwah-arwah itu tidak mau mengalah. Laki-laki muda itu telah muncul tiba-tiba di gereja milik mereka, mengusir jemaat, dan bermain piano sepanjang hari. Arwah-arwah tidak menyukainya karena tentu saja, gereja itu milik mereka.
Mereka yang telah dikuburkan di pekarangannya, ditinggalkan penduduk desa yang terlalu sibuk memaknai hidup untuk peduli yang mati.
Arwah-arwah membalasnya dengan menghantui desa, memaksa penduduknya mengunjungi gereja.
Tapi sekarang, gereja itu telah sepi. Organ tak dimainkan, digantikan dengan piano dan seorang seniman. Ia menggubah lagu sepanjang hari, membuat para arwah gila dalam amarah dan warga desa sumrigah. Arwah kini tidak lagi pongah.
Arwah-arwah itu menyadari bahwa seorang yang tak percaya takkan takut. Maka, dibanding menghantuinya, mereka menganggunya sedikit demi sedikit, menumpulkan indranya.
Pada akhirnya, laki-laki muda itu tak tahan juga.
"Kalian yang memaksa."
Ia bermain.
Dengan lembut, amat sangat lembut.
Sayup-sayup pianonya terdengar ke desa, dan warga desa terbuai. Tungku pembakaran dibiarkan berderak, kusir-kusir terkantuk-kantuk di atas kereta kuda. Arwah-arwah perlahan menenang, menghentikan gangguan.
Ia masih bermain, syahdu. Permainan yang membangkitkan khayalan. Berguling di padang rumput pada hari yang cerah, bersandar pada dada kekasihmu di bawah rindangan pohon. Gadis-gadis muda terkikik, pria-pria muda tertawa-tawa.
Kemudian, secara tiba-tiba, tempo naik, dengan cepat. Rangkaian nada yang brutal, penuh kegalauan, amarah, dan amukan.
Ibu-ibu tersadar dari lamunan dan menemukan tungku terbakar, kusir-kusir menyadari kuda mereka berlari menabrak pohon, dan sudah terlalu terlambat untuk menahannya.
Gadis-gadis muda tersadar bahwa rok mereka tersingkap, dan pria-pria muda tersadar bahwa merekalah yang menyingkapnya.
Musik itu semakin dipenuhi amarah, dan desa itu dipenuhi jeritan, tabrakan, dan kebakaran yang menjalar. Arwah-arwah mengamuk, bergabung dengan arwah penduduk desa yang baru, kebingungan, kemarahan, keputusasaan menjelma menjadi satu.
Laki-laki itu terus bermain, tidak melambatkan tempo hingga tak ada lagi nyawa yang tersisa. Ketika ia memastikan seluruh desa telah wafat, ia meninggalkan gereja.
Kemarahan telah menghancurkan arwah-arwah itu menjadi serpihan, dan tak ada yang tersisa untuk ditangisi dan dikuburkan.
Ia tertawa hambar, dan mengelus-elus alat musik pribadinya, yang jika ditiupnya, berakhirlah segala alam semesta.
Laki-laki muda itu menggenggam sangkakala.
Adaptasi dari: Peniup Seruling dari Hamelin.
Komentar
Posting Komentar