Manik hitam seorang anak terpaku memandangi jendela toko di depannya. Segala yang ada di dalam toko itu tampak begitu indah, penuh gemerlap berkilauan. Ragu ia langkahkan kakinya ke dalam toko, dan gemerincing bel menandakan seorang pelanggan masuk pun memecah keheningan toko. Pemilik toko itu, seorang lelaki tua bertampang ramah, bernalik dari deretan jam tua dan pernak pernik kuno dan menghadap pelanggan kecilnya, tersenyum penuh arti saat melihat kantong uang kumal yang dilipat-lipat dan wajah penuh determinasi bocah kecil tersebut. "Adakah yang dapat kakek bantu, Nak?", sapanya ramah. Sejenak, ia teringat dirinya, beberap puluh tahun yang lalu, berdiri di depan seorang pemilik toko yang sama. Jika ia tak salah mengingat, kedatangannya dulu adalah untuk membeli hadiah untuk hari Ibu. “Aku ingin memberi hadiah untuk Ibuku pada hari Ibu, bisakah Kakek membantuku?” manik hitam itu menatap kepada mata abu-abu sang Kakek, kejujuran dan kepolosan terpancar dari...