Langsung ke konten utama

Hari Ibu

Manik hitam seorang anak terpaku memandangi jendela toko di depannya. Segala yang ada di dalam toko itu tampak begitu indah, penuh gemerlap berkilauan. Ragu ia langkahkan kakinya ke dalam toko, dan gemerincing bel menandakan seorang pelanggan masuk pun memecah keheningan toko.

Pemilik toko itu, seorang lelaki tua bertampang ramah, bernalik dari deretan jam tua dan pernak pernik kuno dan menghadap pelanggan kecilnya, tersenyum penuh arti saat melihat kantong uang kumal yang dilipat-lipat dan wajah penuh determinasi bocah kecil tersebut.

"Adakah yang dapat kakek bantu, Nak?", sapanya ramah. Sejenak, ia teringat dirinya, beberap puluh tahun yang lalu, berdiri di depan seorang pemilik toko yang sama. Jika ia tak salah mengingat, kedatangannya dulu adalah untuk membeli hadiah untuk hari Ibu.

“Aku ingin memberi hadiah untuk Ibuku pada hari Ibu, bisakah Kakek membantuku?” manik hitam itu menatap kepada mata abu-abu sang Kakek, kejujuran dan kepolosan terpancar darinya.

Sang Kakek tersenyum mafhum, lalu dengan sangat amat rendah hati, menawarkan bocah itu untuk berkeliling melihat-lihat tokonya. Toko sang Kakek memang sebuah toko sederhana, sebuah tempat penitipan kenangan dari orang-orang zaman dahulu yang tak sudi membuang kenangan-kenangan tersebut ke tempat lainnya.

“Apa yang disukai oleh Ibumu, Nak? Apakah ia suka memasak? Berkebun? Atau yang lainnya?”, tanya sang Kakek. Anak tersebut berpikir sejenak, lalu mata hitamnya mengerjap jenaka, dan dengan segera ia menjawab bahwa ibunya suka memasak. Sang Kakek tersenyum melihat kebahagiaan bocah itu, lalu menyodorkan beberapa celemek memasak kuno yang ada di tokonya. Celemek-celemek itu indah sekali, berwarna putih, pink muda, dan biru pastel, dengan hiasan renda di sana-sini. Namun, anak lelaki itu menggelengkan kepalanya.

“Ibuku tidak akan menyukai hal-hal seperti itu. Terlalu….berenda.”, anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seakan gambaran Ibunya memakai celemek berwarna ceria dengan penuh renda itu sama parahnya dengan ramalan kiamat dunia. Sang Kakek pemilik toko tersenyum mafhum, lalu mengajak anak itu menuju sisi lain dari toko itu.

Kini, anak itu dihadapkan dengan barisan-barisan kalung bermata jeli. Mata anak itu membesar, dan ia menggeggam kantung uangnya erat-erat. Sang Kakek tertawa melihat reaksi anak itu, lalu menenangkannya dengan mengatakan bahwa ia boleh memilih yang mana saja yang kira-kira akan disukai ibunya, dan membayar sesuai uang yang dipunyainya. Mata anak itu kembali melebar, lalu ia mulai memilih-milih kalung yang ada di hadapannya.

Tangannya bergerak mengambil sebuah kalung perak dengan mata batu opal. Namun, ia mengurungkan niatnya itu. “Aku baru ingat, Ibu tidak terlalu menyukai perhiasan. Katanya, memakai perhiasan membuat gatal.”, anak itu kembali terkulai di tempatnya. Kakek pemilik toko tersenyum.

“Ibumu pemilih sekali, ya.”, ia berujar dengan geli. Anak laki-laki itu, sebaliknya, tidak merasa bahwa hal itu adalah hal yang lucu. Ia masih memusingkan perihal kado untuk Ibunya tersebut. Melihat hal itu, sang Kakek kembali mengajaknya ke tempat lain di tokonya, kini ia dihadapkan pada rangkaian kain-kain aneka warna, sepertinya itu adalah tumpukan gaun-gaun sederhana yang akan diperlihatkan oleh sang Kakek kepada anak tersebut. Namun, anak itu malah memberengut.

“Kakek tidak mengerti!”, cibirnya.

“Tidak mengerti apa?”, tanya kakek itu lagi.

“Apa Kakek tidak mengerti, kalau Ibuku itu seorang lelaki? Apa tidak ada hari Ibu untuk Ibu seperti Ibuku?!”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

We're all Minky Momo(s), after all.

Halo. Sudah berapa lama Farah nggak nulis? :") Blog ini sama berdebunya dengan buku-buku lama di Perpusat UI. Anyway, entah kenapa malam ini sedang ingin menulis. Random saja, karena melihat postingan seorang senior yang telah menyelesaikan sidang skripsinya minggu lalu. Di timeline line, ia me-repost sebuah lirik lagu dari anime tahun 90'an, Minky Momo. Iya, Minky Momo yang rambutnya pink dan bawa-bawa tongkat itu,  yang mungkin jadi inspirasi sinetron 'Bidadariku' Anyway, yang direpost adalah lirik lagu ini: Ingin menjadi apa, setelah dewasa Ingin menjadi apa, tak terbayangkan~ Diikuti dengan kalimat 'paling relatable 2k16'. Dan seketika saya langsung tersentak 'Oh', batin saya. Berbicara tentang masa depan, karir, memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Ada banyak sekali ketidak pastian, ada banyak tantangan yang menunggu. Kadang, saat jalan sudah lurus terbentang di hadapan kita, kita masih bingung harus memilih jalan yang sebelah man...

Sejarah

Ada yang bilang kepadaku tak usah pedulikanmu karena kamu hanyalah benda mati yang membisu pada seonggok waktu Ada pula yang bilang kepadaku untuk bercermin kepadamu karena kamu begitu tua sehingga lakumu telah mengisahkan laku laku dan dosa masa lalu Ada yang bilang kepadaku untuk menghormatimu bukan karena kau begitu tua tetapi karena kau akan selalu dan selalu menjadi baru Ada yang bilang kepadaku bahwa kamu tidak lebih dari sebuah beban dan dosa yang dibesar besarkan bahwa kamu hanyalah dongengan yang dilegalkan Ada yang bilang kepadaku bahwa kamu belum selesai dan akan mempelajarimu jika sudah selesai cerita tentangmu sambil berseloroh ia mencandakan akhir waktu Lalu, kamu berbisik kepadaku; “Aku memang seonggok benda mati yang membisu, kaummu telah berbicara lebih banyak tentangku dari pada waktu. Aku memang mengisahkan dosa dan laku masa lalu, tapi aku juga mengisahkan bahagia, pesta pora, dan kemenangan penulisku. Aku memang selalu dan selalu menjadi baru, teta...

Piano Man

Piano Man Hoshiura Tanaka             Jazz Hands Bar and Café             5   Januari 2019             2:30 AM.             Bar itu dipenuhi dengan garis polisi, dan di depannya mobil-mobil polisi terparkir.             Polisi-polisi itu sibuk dengan alat komunikasi mereka masing-masing. Salah satu dari mereka, seorang detektif muda bernama Hoshiura Tanaka, terlihat berlarian ke -sana ke mari di TKP. Ia mencatat keterangan para saksi, meneliti bukti-bukti yang ditemukan tim forensik, dan memeriksa kondisi mayat yang ditemukan.             Sementara ini, dia belum bisa menemukan teori apa pun. Penyelidikan pembunuhan bukalah kisah novel Ra...