Langsung ke konten utama

Keledai Proletar Yang Jatuh Cinta Pada Kuda Poni Kaum Borjuis Bergincu Merah.






Keledai Proletar Yang Jatuh Cinta Pada Kuda Poni Kaum Borjuis Bergincu Merah.
                                                (dan keajaiban-keajaiban lainnya)
Didasarkan pada film pendek Paperman.
Setiap hari selalu sama.
Kayak keledai saja, aku ini. Berangkat kerja, kerja dengan setumpuk kertas-kertas yang aku juga nggak ngerti isinya apa, terus pulang. Naik kereta. Desak-desakan. Masih harus bawa jutaan kertas yang dikasih bos-ku yang gendut, pendek, nggak punya selera humor, dan sama kurang bergajinya seperti aku.  Dia suka marah-marah padaku karena gajinya kurang, kerjannya banyak, istrinya tukang mengamuk, dan cuma aku yang bisa dia marahin. Persis petani tua yang tidak punya apa-apa memarahi keledai tuanya yang juga tidak punya apa-apa.  Marah bukan karena emosi, tetapi putus asa.
Jadi aku: Keledai Proletar
 Boss-ku: Petani Tua Borjuis Yang Putus Asa.
Panjang umur kapitalisme.  
            Tapi, hidup kita memang nggak ada yang tahu bagaimana jalan ceritanya. Kasih saja aku perumpamaan ‘pada suatu hari’. Pada suatu hari, Keledai Proletar ini keluar dari truk-truk pengangkut budak kapitalis (baca: kereta api), lalu seorang perempuan berambut merah, dengan gincu merekah seperti bunga mawar. Dia mengejar-ngejar kertas yang sama yang kutangani tiap hari, jadi aku tahu, dia sesama Keledai Proletar juga.  Tapi, angin yang menghantarkan wangi tubuhnya membisikkan padaku bahwa ia bukan Keledai Proletar biasa, mungkin, ia sejenis Kuda Poni yang bergincu dan berbedak, yang wanginya luar biasa.
            Aku pandangi dia, terpesona oleh kecantikan Poni yang bertubuh sintal dan berambut merah, gincunya merekah dan basah. Kertas yang ia kejar keburu jauh tertiup angin, namun selembar kembali, dan mendarat di wajahnya. Aku menyingkapnya, dan menemukan kertas itu ternoda merah merekah dari gincunya, ia tertawa kecil,
dan aku jatuh cinta.
 Keledai Proletar jatuh cinta pada Kuda Poni Kaum Borjuis Bergincu Merah.
***
            Jatuh cinta itu bahaya, sobat. Ia bisa membuatmu melamun seharian.  Pagi setelah bertemu si Poni Merah Borjuis (bukan celaan, sumpah, ini tahu diri namanya), aku memikirkan gincu yang tertinggal di kertasnya. Kertas itu kubawa, dan seperti Keledai bodoh yang dimabuk cinta, kupandangi sepanjang hari, berharap bisa bertemu dengannya lagi.  Lamunanku terhenti ketika si Petani Tua Borjuis meletakkan kertas-kertas yang aku tak tahu maknanya itu di hadapanku, aku mendesah, dan membuang pandang ke jendela ruanganku. Apa pun yang dapat mengalihkan perhatianku dari kertas-kertas sialan ini, pikirku.
            Lalu, mataku melihatnya, si Poni.
            Aku mendekatkan tubuhku ke jendela, meastikan ia memang Poni-ku. Gincu merah, setelahn sewarna jingga-nya sore hari, serta rambut yang  seolah terbakar lidah api. Ya, itu Poni-ku, dan aku, Keledai Proletar yang dimabuk cinta, merasa perlu mengirim surat, pesawat kertas yang menyatakan aku menyukainya. Perlahan, kuraih satu per satu kertas di mejaku, melipatnya dengan perlahan, setiap lipatan kubisikkan keinginanku untuk menemuinya aku suka kamu aku suka kamu aku suka kamu.
            Meleset meleset meleset meleset meleset meleset meleset.
            Aku memandang kertas terakhir yang ada di mejaku. Kertas bergincu. Hatiku berdersir. Mungkinkah keajaiban dongeng-dongeng bisa terjadi padaku? Apa gincu merah merekah ini bisa mengantarkanku pada pemiliknya? Takdir? Barangkali, sihir? Aku melipat kertas itu, mengirimkan pesanku
            Aku suka kamu tolong suka aku juga.
            M E L E S E T.
            Aku mengerang. Tuhan memang suka bercanda dan kadang-kadang tukang tidur! Mataku tetap tidak berhenti mengamati jendela, kalau surat tak bisa mencapainya, aku sendiri yang harus berlari, bagaimanapun aku adalah keledai dan keledai diharuskan untuk ber—
            BRAK!
            Tumpukan kertas-kertas yang tidak kumengerti, dan Petani Tua Yang Putus Asa menjerit di depan mataku. Napasnya berbau makan siang tak habis, dan aku, yang sudah muak menjadi Keledai, menyelinap pergi dengan marah ketika ia berbalik menuju ruangannya. Persetan. Aku mau mengejar cinta sejati.
            Aku ingin mengerjakan sesuatu yang membuatku bahagia.
***
            Tentu saja bahagia tidak semudah itu, sobat. Aku berlari mengejar bayangan si poni itu, dan tentu saja ia tidak pernah tergapai tanganku. Aku hampir tertabrak mobil, dimaki pengendali truk, dan diacungi jari tengah oleh seorang penyebrang jalan. Heroik sekali, tapi seorang pahlawan tidak selalu menang.
            Dengan lesu, aku berjalan kembali ke arah Peternakan-ku.
            Lalu, Tuhan terbangun dari tidur siangnya, dan tiba-tiba, aku diseret oleh pusaran kertas-kertas yang tadi kulipat. Aku melawan sekuat tenaga. Hei, aku ini Keledai Proletar, bukan Bocah Penyihir Yang Tidur Di Bawah Tangga! Aku tidak perlu diikuti kumpulan surat yang bisa terbang untuk menentukan nasibku. Umurku tiga puluh satu, bukan sebelas!
            Takdir tidak melepaskanku begitu saja, mereka mengirimku, menggiringku melintasi kota, menaikkanku ke kereta segala. Aku memberengut, jelas-jelas aku melihatnya di kota-ku, tapi surat-surat ini bersikeras membawaku ke kota sebelah. Mereka terus menerus mendesakku, mendorong, menjegal, dan memaksaku ikut. Aku baru tahu bahwa Takdir begitu pemaksa..
            Aku mencium wanginya terlebih dahulu, lalu mendengar suaranya yang begitu diam dan malu-malu. Kemudian, aku berakhir di hadapannya, gincu merah muda, setelah sewarnya jingga-nya sore, dan rambut yang seperti terbakar api. Kami saling memandang, Biru di iris matanya, dipenuhi kekagetan dan keramahan.
            “Bagaimana bisa?”
            “B—bagaimana bisa apanya?”
            “Rambutmu merah seperti api, tapi iris matamu adalah lautan yang memadamkannya.”
            Ia tertawa.
            Takdir memang pemkasa, tapi begitu baik ia pada para pelakunya.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

We're all Minky Momo(s), after all.

Halo. Sudah berapa lama Farah nggak nulis? :") Blog ini sama berdebunya dengan buku-buku lama di Perpusat UI. Anyway, entah kenapa malam ini sedang ingin menulis. Random saja, karena melihat postingan seorang senior yang telah menyelesaikan sidang skripsinya minggu lalu. Di timeline line, ia me-repost sebuah lirik lagu dari anime tahun 90'an, Minky Momo. Iya, Minky Momo yang rambutnya pink dan bawa-bawa tongkat itu,  yang mungkin jadi inspirasi sinetron 'Bidadariku' Anyway, yang direpost adalah lirik lagu ini: Ingin menjadi apa, setelah dewasa Ingin menjadi apa, tak terbayangkan~ Diikuti dengan kalimat 'paling relatable 2k16'. Dan seketika saya langsung tersentak 'Oh', batin saya. Berbicara tentang masa depan, karir, memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Ada banyak sekali ketidak pastian, ada banyak tantangan yang menunggu. Kadang, saat jalan sudah lurus terbentang di hadapan kita, kita masih bingung harus memilih jalan yang sebelah man...

Sejarah

Ada yang bilang kepadaku tak usah pedulikanmu karena kamu hanyalah benda mati yang membisu pada seonggok waktu Ada pula yang bilang kepadaku untuk bercermin kepadamu karena kamu begitu tua sehingga lakumu telah mengisahkan laku laku dan dosa masa lalu Ada yang bilang kepadaku untuk menghormatimu bukan karena kau begitu tua tetapi karena kau akan selalu dan selalu menjadi baru Ada yang bilang kepadaku bahwa kamu tidak lebih dari sebuah beban dan dosa yang dibesar besarkan bahwa kamu hanyalah dongengan yang dilegalkan Ada yang bilang kepadaku bahwa kamu belum selesai dan akan mempelajarimu jika sudah selesai cerita tentangmu sambil berseloroh ia mencandakan akhir waktu Lalu, kamu berbisik kepadaku; “Aku memang seonggok benda mati yang membisu, kaummu telah berbicara lebih banyak tentangku dari pada waktu. Aku memang mengisahkan dosa dan laku masa lalu, tapi aku juga mengisahkan bahagia, pesta pora, dan kemenangan penulisku. Aku memang selalu dan selalu menjadi baru, teta...

Piano Man

Piano Man Hoshiura Tanaka             Jazz Hands Bar and Café             5   Januari 2019             2:30 AM.             Bar itu dipenuhi dengan garis polisi, dan di depannya mobil-mobil polisi terparkir.             Polisi-polisi itu sibuk dengan alat komunikasi mereka masing-masing. Salah satu dari mereka, seorang detektif muda bernama Hoshiura Tanaka, terlihat berlarian ke -sana ke mari di TKP. Ia mencatat keterangan para saksi, meneliti bukti-bukti yang ditemukan tim forensik, dan memeriksa kondisi mayat yang ditemukan.             Sementara ini, dia belum bisa menemukan teori apa pun. Penyelidikan pembunuhan bukalah kisah novel Ra...