Laki-laki tua itu menghampiri salah satu lapak kayu di pasar malam yang hampir tutup. Dia tidak terlambat, dia justru tepat waktu. Saat pasar hampir tutup adalah waktu ramai-ramainya pengunjung, dan tubuh tua dan lelahnya tak perlu berlama-lama menjajakan dagangan.
Ia meletakkan tas kainnya yang lusuh. Tas itu ia wariskan dari ayahnya, ayahnya mendapat dari kakeknya, dan begitu seterusnya, hingga mungkin, jika dilacak, tas itu hampir sama tuanya dengan seisi dunia.
Benda setua itu mengandung kebijaksanaannya sendiri. Karena itulah, kakek tua itu tak pernah mengganti tas-nya, betapa pun lusuhnya.
Dari dalam tas hitam itu, ia mengeluarkan barang dagangannya. Permen-permen loli cerah dengan berbagai ukuran, dikeluarkan dan dijajarkannya satu per satu di atas meja. Ia tidak punya tempat menata yang istimewa seperti lapak-lapak di sampingnya, yang menata dagangan mereka dengan rak-rak plastik cerah dan kerlap-kerlip lampu. Ia hanya menata--menghamburkan, tepatnya--permen-permen itu di atas meja, menunggu pelanggannya.
Ada yang berbeda dengan permen-permen loli itu, tentu saja. Permen-permen itu hanya memiliki satu rasa: kedukaan. Tapi tentu saja, setiap rasa kedukaan berbeda satu sama lain. Itulah yang membuat permen-permen ini begitu laris--betapa tepat dan ajaibnya ia meramal rasa duka di dalam jiwa.
Dan di Pasar Malam inilah, loli-loli kedukaan ini paling dicari. Barangkali terdengar aneh, di tempat kebahagiaan memuncak, justru benda yang membawa kedukaan yang paling dicari. Tapi barangkali, histeria dan duka tak ada bedanya. Bukankah kita seringkali berpura-pura baik-baik saja dengan berteriak melampaui semestinya?
Tapi cukuplah mengenai emosi manusia. Mari kita amati permen-permen loli ini dan konsumennya saja. Permen ini dibuat si kakek dalam tiga jenis: duka, nestapa, dan nelangsa. Duka yang paling kecil, nelangsa dan nestapa mengikuti.
Dan kedukaan, seperti yang dikatakan sebelumnya, punya rasanya masing-masing. Dan pemuda yang menghampiri lapak itu akan mencicipinya untuk pertama kali.
Ia mendengar soal lapak ini dari temannya--Lapak Permen Kedukaan. Ia hanya penasaran, jadi ia menghampiri lapak itu, menyerahkan telapak tangannya, dan menunggu. Kakek tua penunggu lapak tersenyum, menyayat kulitnya sedikit, mengusapkannya pada permen loli, lalu menyerahkannya.
Beginilah tradisi di negeri ini jika menyangkut penganan ajaib. Transaksi tak dilakukan dengan uang, tapi dengan darah, keringat, atau air mata--dalam arti sesungguhnya. Kadang, ketiganya diperlukan bersamaan.
Pemuda itu--tampan, berotot, berlesung pipi, yah masukkan saja semua kriteria pemuda tampan di cerita--mengambil permen itu. Permen Duka. Satu jilatan. Dua jilatan. Lima jilatan. Sepuluh jilatan, dan ia menangis meraung-raung.
Orangtuanya meninggal sebulan lalu, dan ia tak kunjung merelakannya. Namun, ia tak boleh menangis. Ia sulung, lelaki pula. Bahunya harus kuat menahan derita, termasuk air mata. Kakek tua itu memberengut, air mata tak punya jenis kelamin, sahutnya. Pemuda itu tersedak air matanya sebab ia tertawa di antara tangisnya.
Kakek tua itu tersenyum mafhum. Sementara itu, antrian kini terbentuk di depan lapaknya. Orang-orang kini sadar bahwa Lapak Permen Kedukaan telah buka, dan mereka berbondong-bondong mengantre untuk melampiaskan kedukaan mereka.
Kakek tua itu menjadi sibuk sekali. Ia menyayat kulit, mengoleskan antiseptik pada bekas luka (sihir tidak mencegah infeksi, sayang sekali), dan mendengarkan cerita mereka yang membutuhkan penghiburan.
Sampai antrian berhenti pada sosok seorang gadis muda. Gadis itu, alih-alih menunggu kakek menyayat kulitnya, mengambil silet dari saku lengannya, menyayat kulitnya, lalu mengusapkannya pada permukaan permen nestapa.
Ia menjilati permen itu dengan penuh amarah. Tapi ada rasa lain yang dicecapnya. Getir. Gadis ini telah gagal dalam ujian akhirnya, dan orang tuanya, yang memang pemaksa, tidak akan mau menerimanya. Bekas-bekas sayatan di kulitnya memperjelas kondisinya.
Kakek itu membiarkannya marah-marah. Mengacak-acak barang, memaki-maki dirinya dan semua orang. Lalu dengan perlahan, diusapnya lengan gadis itu, dan setelah amarah gadis itu mereda, ia perlahan mengambil silet dari lipatan lengan bajunya, dan mematahkan menjadi dua.
Tak ada jaminan gadis itu tak akan mencoba lagi. Tapi setidaknya, tidak akan untuk malam ini. Ia ingin gadis itu tidur nyenyak, itu saja sudah cukup.
Ia hanya punya satu permen loli lagi. Permen loli nelangsa. Ini jarang sekali terjual, pikirnya. Orang-orang sekarang sudah lebih bahagia. Ia hampir saja memasukkan permen loli itu ke tas kain, ketika dilihatnya seseorang menghampirinya.
Anak laki-laki kecil. Dan ia menginginkan permen nelangsa.
Kakek tua tak sampai hati. Tapi ia tahu, menolak anak ini akan lebih buruk lagi. Dengan amat perlahan, ia menyayat jari anak itu, mengusapkannya pada permen nelangsa, lalu melihat anak itu menjilatinya dengan wajah datar, tak terganggu apa-apa.
Anak itu terlahir tanpa orangtua. Umurnya kini baru sebelas, dan ia telah ditipu habis-habisan, disiksa oleh preman jalanan, dan dilecehkan. Tetapi, tadi pagi, anjing kecil-nya, satu-satunya temannya, mati tertular wabah yang menjangkiti kota ini. Dan ia dapat merasakan bahwa sebentar lagi, ia akan menyusul Wimpy.
Kakek tua itu menghela nafas. Anak ini hanya bisa bertahan hingga esok pagi. Tapi setidaknya, permen nelangsa yang dikulumnya tadi terasa manis sekali.
Usai anak itu pergi, kakek menutup lapaknya. Ia membuang bekas-bekas pembungkus loli, menguncj laci-laci, lalu mengintip ke dalam tas kainnya. Di sebuah botol kecil, terlihat sebuah ramuan bening yang berkilauan.
Esensi Kedukaan. Orang menjulukinya pengumpul air mata, tapi kedukaan tak selalu berarti ada air mata. Kadang kedukaan adalah kemarahan, kadang ia adalah penerimaan, tetapi seringnya hanya sebuah kekosongan.
Kakek tua itu menutup tas kainnya lagi. Esens itu cukup untuk menbuat dua lusin loli.
Ia meletakkan tas kainnya yang lusuh. Tas itu ia wariskan dari ayahnya, ayahnya mendapat dari kakeknya, dan begitu seterusnya, hingga mungkin, jika dilacak, tas itu hampir sama tuanya dengan seisi dunia.
Benda setua itu mengandung kebijaksanaannya sendiri. Karena itulah, kakek tua itu tak pernah mengganti tas-nya, betapa pun lusuhnya.
Dari dalam tas hitam itu, ia mengeluarkan barang dagangannya. Permen-permen loli cerah dengan berbagai ukuran, dikeluarkan dan dijajarkannya satu per satu di atas meja. Ia tidak punya tempat menata yang istimewa seperti lapak-lapak di sampingnya, yang menata dagangan mereka dengan rak-rak plastik cerah dan kerlap-kerlip lampu. Ia hanya menata--menghamburkan, tepatnya--permen-permen itu di atas meja, menunggu pelanggannya.
Ada yang berbeda dengan permen-permen loli itu, tentu saja. Permen-permen itu hanya memiliki satu rasa: kedukaan. Tapi tentu saja, setiap rasa kedukaan berbeda satu sama lain. Itulah yang membuat permen-permen ini begitu laris--betapa tepat dan ajaibnya ia meramal rasa duka di dalam jiwa.
Dan di Pasar Malam inilah, loli-loli kedukaan ini paling dicari. Barangkali terdengar aneh, di tempat kebahagiaan memuncak, justru benda yang membawa kedukaan yang paling dicari. Tapi barangkali, histeria dan duka tak ada bedanya. Bukankah kita seringkali berpura-pura baik-baik saja dengan berteriak melampaui semestinya?
Tapi cukuplah mengenai emosi manusia. Mari kita amati permen-permen loli ini dan konsumennya saja. Permen ini dibuat si kakek dalam tiga jenis: duka, nestapa, dan nelangsa. Duka yang paling kecil, nelangsa dan nestapa mengikuti.
Dan kedukaan, seperti yang dikatakan sebelumnya, punya rasanya masing-masing. Dan pemuda yang menghampiri lapak itu akan mencicipinya untuk pertama kali.
Ia mendengar soal lapak ini dari temannya--Lapak Permen Kedukaan. Ia hanya penasaran, jadi ia menghampiri lapak itu, menyerahkan telapak tangannya, dan menunggu. Kakek tua penunggu lapak tersenyum, menyayat kulitnya sedikit, mengusapkannya pada permen loli, lalu menyerahkannya.
Beginilah tradisi di negeri ini jika menyangkut penganan ajaib. Transaksi tak dilakukan dengan uang, tapi dengan darah, keringat, atau air mata--dalam arti sesungguhnya. Kadang, ketiganya diperlukan bersamaan.
Pemuda itu--tampan, berotot, berlesung pipi, yah masukkan saja semua kriteria pemuda tampan di cerita--mengambil permen itu. Permen Duka. Satu jilatan. Dua jilatan. Lima jilatan. Sepuluh jilatan, dan ia menangis meraung-raung.
Orangtuanya meninggal sebulan lalu, dan ia tak kunjung merelakannya. Namun, ia tak boleh menangis. Ia sulung, lelaki pula. Bahunya harus kuat menahan derita, termasuk air mata. Kakek tua itu memberengut, air mata tak punya jenis kelamin, sahutnya. Pemuda itu tersedak air matanya sebab ia tertawa di antara tangisnya.
Kakek tua itu tersenyum mafhum. Sementara itu, antrian kini terbentuk di depan lapaknya. Orang-orang kini sadar bahwa Lapak Permen Kedukaan telah buka, dan mereka berbondong-bondong mengantre untuk melampiaskan kedukaan mereka.
Kakek tua itu menjadi sibuk sekali. Ia menyayat kulit, mengoleskan antiseptik pada bekas luka (sihir tidak mencegah infeksi, sayang sekali), dan mendengarkan cerita mereka yang membutuhkan penghiburan.
Sampai antrian berhenti pada sosok seorang gadis muda. Gadis itu, alih-alih menunggu kakek menyayat kulitnya, mengambil silet dari saku lengannya, menyayat kulitnya, lalu mengusapkannya pada permukaan permen nestapa.
Ia menjilati permen itu dengan penuh amarah. Tapi ada rasa lain yang dicecapnya. Getir. Gadis ini telah gagal dalam ujian akhirnya, dan orang tuanya, yang memang pemaksa, tidak akan mau menerimanya. Bekas-bekas sayatan di kulitnya memperjelas kondisinya.
Kakek itu membiarkannya marah-marah. Mengacak-acak barang, memaki-maki dirinya dan semua orang. Lalu dengan perlahan, diusapnya lengan gadis itu, dan setelah amarah gadis itu mereda, ia perlahan mengambil silet dari lipatan lengan bajunya, dan mematahkan menjadi dua.
Tak ada jaminan gadis itu tak akan mencoba lagi. Tapi setidaknya, tidak akan untuk malam ini. Ia ingin gadis itu tidur nyenyak, itu saja sudah cukup.
Ia hanya punya satu permen loli lagi. Permen loli nelangsa. Ini jarang sekali terjual, pikirnya. Orang-orang sekarang sudah lebih bahagia. Ia hampir saja memasukkan permen loli itu ke tas kain, ketika dilihatnya seseorang menghampirinya.
Anak laki-laki kecil. Dan ia menginginkan permen nelangsa.
Kakek tua tak sampai hati. Tapi ia tahu, menolak anak ini akan lebih buruk lagi. Dengan amat perlahan, ia menyayat jari anak itu, mengusapkannya pada permen nelangsa, lalu melihat anak itu menjilatinya dengan wajah datar, tak terganggu apa-apa.
Anak itu terlahir tanpa orangtua. Umurnya kini baru sebelas, dan ia telah ditipu habis-habisan, disiksa oleh preman jalanan, dan dilecehkan. Tetapi, tadi pagi, anjing kecil-nya, satu-satunya temannya, mati tertular wabah yang menjangkiti kota ini. Dan ia dapat merasakan bahwa sebentar lagi, ia akan menyusul Wimpy.
Kakek tua itu menghela nafas. Anak ini hanya bisa bertahan hingga esok pagi. Tapi setidaknya, permen nelangsa yang dikulumnya tadi terasa manis sekali.
Usai anak itu pergi, kakek menutup lapaknya. Ia membuang bekas-bekas pembungkus loli, menguncj laci-laci, lalu mengintip ke dalam tas kainnya. Di sebuah botol kecil, terlihat sebuah ramuan bening yang berkilauan.
Esensi Kedukaan. Orang menjulukinya pengumpul air mata, tapi kedukaan tak selalu berarti ada air mata. Kadang kedukaan adalah kemarahan, kadang ia adalah penerimaan, tetapi seringnya hanya sebuah kekosongan.
Kakek tua itu menutup tas kainnya lagi. Esens itu cukup untuk menbuat dua lusin loli.
Terima kasih sudah mampir, salam kenal! :)
BalasHapus