Alkisah, pada suatu hari, Masjid Agung dan Katedral
Tua pernah jatuh cinta.
Tentu
saja, mereka tidak bisa menjalin hubungan cinta sebagaimana dua insan yang
tengah dimabuk asmara, karena mereka adalah Masjid Agung dan Katedral Tua. Bahkan
manusia-manusia yang telah mereka persatukan pun, tidak ada yang keluar dari
rumah ibadah yang berbeda. Apalagi, jika Katedral Tua dan Masjid Agung
memutuskan untuk bercinta. Mustahil. Keduanya tau benar akan hal itu.
Maka
dari itu, yang mereka lakukan hanya lirikan mata diam-diam dan bisikan hati
yang syahdu. Meski mereka tahu, perasaan mereka terlarang, tapi desir hari
mereka tidak bisa berbohong. Tiap kali pandangan mereka bersirobok, ada
desir-desir hati yang tergerak, untuk kemudian mereka diamkan kembali. Setiap kali
desir itu terasa menganggu, keduanya selalu mengingat hal yang sama: Tuhan.
Dan
kemudian, desir itu akan diam. Mereka akan menjadi Masjid Agung dan Katedral Tua
yang sunyi, megah, dan khidmat kembali.
Orang-orang,
umat , jamaah akan berlalu lalang di sekitar mereka, sibuk dengan ibadahnya
masing-masing. Tidak memperhatikan Masjid Agung dan Katedral Tua yang tengah
dimabuk cinta, dan masing-masing ingin mendekat namun dipisahkan oleh jarak
yang amat jauh.
Yang
sama-sama memuja Tuhan, namun dipisahkan oleh ketuhanan itu sendiri.
***
Hingga
pada suatu hari, Katedral Tua tidak tahan lagi, ia memanggil—memekik—kepada Masjid
Agung.
“Masjid
Agung!”, pekiknya.
Masjid
agung, yang tengah khusyuk dalam zikirnya, tersentak. Badannya tiba-tiba panas
dingin mendengar suara mendesah Katedral Tua. Ia menyebut nama Tuhannya
berkali-kali, sebelum, dengan penuh wibawa, menjawab panggilan Katedral Tua.
“Ada
apa, Katedral Tua?”
“Apakah
Tuhanmu mengajarkanmu untuk berbohong?”, tuduh Katedral Tua. Masjid Agung
tersentak.
“Tidak.
Tentu saja tidak. Berdusta itu dosa.”, ia menjawab dengan terkaget-kaget.
“Apakah
Tuhanmu mengajarkanmu untuk berpura-pura?”, rengek Katedral Tua lagi. Masjid Agung
kembali terkaget-kaget. Lalu menjawab dengan keras.
“Tidak!
Ya Allah, tentu saja tidak!”,
Katedral
Tua terdiam, sebelum ia melanjutkan pernyataannya dengan sedih,
“Lalu
mengapa, engkau berbohong dan berpura-pura pada perasaanmu sendiri?”
Masjid
Agung tersentak, lalu terdiam sejenak.
“Katedral
Tua, ada perbedaan di dunia ini yang tidak bisa dijembatani. Kau dan aku,
misalnya. Kita berada pada jalan yang sama, memuja-Nya. Namun, kau dan aku
memuja-Nya dengan cara yang berbeda. Masing-masing dari kita yakin bahwa cara
kita adalah yang paling benar. Dan karena itu, kita tidak bisa bersatu.”, ia
menimpali dengan hati-hati. Ia paham betul perasaan Katedral Tua padanya,
sepaham ia pada perasaanya terhadap Katedral Tua.
Katedral
Tua menghela nafas sejenak, lalu menjawab dengan suara bergetar,
“Kalau
kita memang sama-sama memuja-Nya, mengapa Ia harus menciptakan kita dengan cara
yang berbeda?”
Masjid
Agung tersenyum,
“Supaya
kau dan aku saling mengenal, Katedral Tua. Supaya kau dan aku tidak meributkan
perbedaan, tetapi merayakannya.”
“Sebab
itu, dari kita tak bisa bersatu?”
“Sebab
itu, dari kita tak ada yang perlu berubah. Sebab Katedral Tua, aku mencintaimu
sebagai sebuah katedral tua dan bukan masjid agung.”
***
Katedral
Tua amat gemar bernyanyi, dan Masjid Agung amat gemar mendegar suaranya.
Setiap
kali Katedral Tua bernyanyi, Masjid Agung akan diam dan khusyuk mendengarkan. Nyanyiannya
begitu indah dan jernih. Diam-diam, ia merasa bersalah sebab ia tahu, begitulah
cara Katedral Tua memuja Tuhannya. Dan ia
sesungguhnya tidak boleh mendengarkan, apalagi menyukai nyanyian Katedral Tua .
Tapi
hatinya tertambar pada suara jernih itu, dan seringkali membuatnya terpaku.
Katedral
Tua tersenyum simpul, lalu bertanya dengan suara jernihnya
“Mengapa
kau tidak ikut bernyanyi, kalau kau menyukai suaraku? Bukankah kau juga bisa
memuja Tuhanmu dengan nyanyian?”, ia bertanya dengan sabar.
“Tuhanku
tidak boleh, dan tidak dapat dipuja dengan nyanyian. Ia kupuja dengan menyebut
nama-Nya berulang-ulang, dengan kata-kata yang indah namun tidak sedikitpun
menandingi keindahannya.”, ia berkata dengan merendah.
“Seperti
puisi?”, tanya Katedral Tua.
“Ya,
seperti puisi, namun puisi yang mengagungkan-Nya dan merendahkanku sebagai
hamba-Nya.”, ia terdiam.
“Kau
tahu, lagu adalah puisi yang dinyanyikan. Aku dan kau memuja-Nya bersama.”,
Katedral Tua turut terdiam.
“Mungkin,
kita bisa memuja-Nya bersamaan, kau tahu? Karena aku yakin ia akan senang
mendegar nama-Nya disebut dengan sedemikian indahnya.”, Katedral Tua memberi
saran.
“Ya,
aku pun percaya hal yang sama.”, Masjid Agung tersenyum.
***
Umat
manusia awalnya tidak menyadarinya. Bahwa Masjid Agung dan Katedral Tua
seringkali berpuisi dan bernyanyi pada saat yang bersamaan, hingga seorang dari
mereka menyadari,
“Hei,
kalian tidak sadar?”
“Sadar
akan apa, saudaraku?”
“Azan
masjid agung ini. Bunyinya bersamaan dengan bunyi lonceng katedral tua itu.”
Masjid
Agung dan Katedral Tua masih saja terus bernyanyi dan berpuisi.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, dong….dong….dong……..
***
Komentar
Posting Komentar