Aku
benci musim gugur, karena ia mengingatkanku padamu. Pada janjimu, pada
senyummu, dan juga pada wajahmu. Aku benci musim gugur, karena ia
mengingatkanku pada sentuhanmu, pada hangat dekapmu, dan pada canda
tawamu. Aku benci musim gugur, karena ia mengingatkanku pada indahnya
saat-saat bersamamu. Saat-saat kita duduk berdua di bawah naungan pohon
jati di Jogja. Saat kita berkhayal jati itu adalah guguran sakura yang
menaungi kita. Saat kita bermimpi, bahwa kita akan duduk di taman kota
Paris, di bawah naungan pohon apel yang beraroma manis.
Aku benci
musim gugur, karena ia mengingatkanku pada kita. Pada jiwa muda asmara
kita. Pada kenangan-kenangan di sekolah, tempat mengajar kita. Saat kita
saling menggoda satu sama lain, saat kita digoda oleh murid-murid lain.
Dulu, kau selalu marah pada mereka, namun, di sisi lain, aku tahu kau
mengaminkan godaan mereka. Aku tahu, di balik teguran dinginmu, terdapat
hati yang hangat dan siap tersentuh. Namun, bahkan aku tak berani
merengkuh.
Aku benci musim gugur, sama seperti kau, bukan?. Kau
benci melihat daun-daun berguguran. Pertanda kemarau panjang, katamu.
Kalau aku, aku hanya tak habis pikir, mengapa daun-daun cantik itu harus
tanggal dari tempatnya, bukankah mereka masih berguna bagi pohonnya?.
Dan setelah itu, kau akan menguliahiku tentang meranggasnya tumbuhan,
dan aku akan menguliahimu tentang produktivitas perusahaan. Lalu, kita
akan mendesah bersamaan, betapa tidak romantisnya kita ini!
Aku
benci musim gugur, karena ia menandakan perpisahan. Tiap daun gugur
menandakan hari yang kulewati tanpamu. Ya, aku masih mengingat jelas
hari itu, saat aku bertolak ke kampung halamanmu. Aku tak mampu
mencegah, karena siapa pula lah aku?. Hanya teman, hanya sahabat, tak
lebih. Hatiku ingin menjerit menentang keadaan, namun aku tak kuasa.
Yang dapat kulakukan hanya tersenyum dan mengantarkanmu ke bandara,
tempat yang akan sangat kubenci hari itu—dan masih kubenci hingga
sekarang.
Aku masih mengingat jelas hari itu, seakan baru terjadi
kemarin. Di depan loket tiket, kau menananyakan keadaanku. Baik-baik
saja kah aku bila tanpamu? Aku hanya mengangguk, tak ingin menyuarakan
apapun. Aku takut, kau tahu bahwa aku merindukanmu, aku takut, bahwa kau
tahu, aku akan menangis untukmu, dan yang paling kutakuti, kau akan
mengetahui,
Aku mencintaimu.
Ya, dan karena itulah aku
membenci musim gugur. Karena dialah yang merenggutmu dariku. Karena,
musim gugur lah yang telah membuatku sendirian di sini. Musim gugur
jualah yang terus mengingatkanku akan senyummu, tawamu, dan dekap
hangatmu. Karena, ia telah mengambil semuanya. Ia telah dengan kejam
merampasmu dariku, yang bahkan belum sempat memilikimu. Dan, kau tahu,
apakah kau tahu apa yang membuatku sangat membenci musim gugur?
Ia memaksaku mengingat segala tentangmu, ia memaksaku mengingat cinta kita.
Demi
Tuhan!, hal itulah yang menyiksaku setiap hari! Kau, bagaimana bisa
sebuah musim mengingatkanku padamu ? Bagaimana mungkin, tiap guguran
daun, tiap sinar mentari pagi, dan tiap lembabnya tanah membuatku
memikirkanmu? Tinggalkan aku sendiri, biarkan musim gugur menari
sendiri, tanpamu.
Tapi, aku tak bisa, dan kau tahu itu. Karena
itulah, kau selalu mengunjungiku saat ia datang. Kau selalu berada
bersama denganku, mengenggam erat tanganku dan mendekapku seperti biasa.
Aku bisa merasakan kehangatanmu menjalar di tubuhku. Kadang,
orang-orang terpekik heran melihat kita, tetapi, apakah kita peduli?
Tidak, kita sedang saling jatuh cinta, dan dunia ini hanya milik kita berdua.
Namun,
hari ini, aku tak melihat kau menjemputku. Di mana dirimu?, dan apakah
kau tahu, aku sudah belajar mencintai musim gugur, sama seperti aku
mencintaimu! Kualihkan padanganku, mencari dirimu. Aku melihat kau
berdiri di seberang jalan, kau melambai kepadaku, dan tersenyum, ingin
merengkuhku. Aku berlari menghampirimu, namun jiwaku terasa melayang
jauh.
Dari atas, kulihat dirimu tersenyum dan menghampiriku. Lalu,
kita bergandengan tangan, menuju keabadian. Di atas sini, pintu-pintu
terbuka untuk kita, dan kita menertawakan mereka yang di bawah. Mereka
yang dulu sering memperolok kau dan aku, mereka yang sering memperolok
kita.
Aku memelukmu, lalu aku berbisik kepadamu;
"Aku tak lagi membenci musim gugur, kau tahu?
Itu karena ia telah menyatukan kita selamanya"
Dan kau pun tersenyum, lalu kita menghidupi keabadian…
Telah
terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas di ruas Jalan kota Paris tadi
malam. Korban adalah seorang wanita berumur 25 tahun, dan diduga
mengalami depresi berat. Ia berlari menerobos arus kendaraan dan
tertabrak, di dalam saku bajunya, ditemukan potongan artikel Koran
tentang kecelakaan pesawat setahun lalu. Diduga, korban mengalami
depresi berat dan memutuskan untuk bunuh diri. Hingga saat ini,
identitas korban masih belum diketahui, dan polisi masih bergerak
menangani kasus ini…
Komentar
Posting Komentar