“Selamat
ulang tahun, ya”
Kata-kata itu kau ucapkan di ruangan
kelas kita. Diantara sisa-sia kue dan lilin yang kubawa, serta piring kertas
yang berceceran. Kata itu diucapkan begitu ringan dari bibirmu. Sebuah kalimat
yang begitu sederhana pula. Hanya sebuah ucapan selamat ulang tahun. Namun,
entah mengapa, kalimat ringan yang sederhana itu, terasa begitu mengena di
hatiku. Begitu tulus, hinga yang bisa kulakukan hanyalah menganggukan kepala
sesaat, menerima ucapan itu. Tetapi, tatapan dari kedua bola matamu masih
tertinggal di memoriku. Terpatri seperti prasasti yang tak lekang oleh waktu.
Tidaklah lama aku mengenalmu. Tiga bulan
pun tak sampai. Kita sama-sama saling mengenal di lembaga kursus bahasa Jepang
ini. Bertemu di kelas yang sama, dengan Sensei
yang sama, dan teman-teman yang juga sama. Tapi, aku tidak memiliki kesempatan
untuk mengenalmu, bahkan untuk mengobrol denganmu pun aku enggan. Aku memang
tidak berpengalaman berteman dengan lawan jenisku. Mereka makhluk misterius bagiku.
Dan sayangnya, kau termasuk satu dari mereka,hanya mungkin, kau berbeda.
Aku menyadarinya saat tu, saat Sensei mengadakan permainan di kelas
kita. Ia menyuruh kita berdiri, mendekat ke arah meja kecil di depan kelas. Setelah
kita berdiri mengelilingi meja itu, ia akan menyebarkan kartu-kartu yang
bertuliskan huruf-huruf Katakana. Aturanya,
ia akan menyebutkan bunyinya, dan kita akan berebutan mengambilnya. Sudah bisa
diperkirakan, bahwa kau lah yang akan memenangkan permainan itu. Kau adalah
murid terpintar di kelas, bukan? Kemenanganmu sering membuatku kesal. Aku tidak
suka dikalahkan, kau tahu?
Tapi, aku juga senang. Senang melihat
tawamu yang lepas, senang melihat kilauan bening di matamu yang hitam.
Karena, saat permainan tersebut
diadakan kembali, kau tidak memiliki tawa lepas dan kilauan mata itu. Bolehkah
aku berasumsi, bahwa itu karena aku tidak menyunggingkan satu senyumpun padamu
saat itu? Aku selalu menganggapnya begitu.
Ah, tetapi masih ada bagian dirimu
yang sama dengan lawan jenismu yang lain. Kau terlalu tergesa dalam menilai
diriku. Kedangkalan dan kemanjaan yang kuperlihatkan kau telan bulat-bulat. Aku
masih ingat, betapa terkejutnya wajahmu, ketika aku berkata aku kutu buku. Bulat
matamu ketika aku memproklamirkan kecintaanku menulis. Kekagumankah, atau
keterkejutankah yang ada di matamu? Sungguh aku tak tahu.
Bagaimana aku bisa tahu? Kau
pendiam, dan aku pemalu. Dari tiga bulan kebersamaan kita, hanya dua kalimat
yang kau ucapkan padaku. Satu yang kutuliskan di atas, dan satu, yang kau
ucapkan saat berjalan beriringan denganku.
“Duluan, ya”
Hanya itu. Tetapi, kalimat itu
membuatku agak terpaku. Aku teringat, bahwa kau akan lebih dulu meninggalkanku,
pergi ke negeri Sakura sana. Kalimat itu berdiam di pojok pikiranku, mengusik
hatiku. Ia merasuk perasaanku, dan aku gelisah, mencoba menelitinya.
Aku menemukan rasa kagum, rasa
hormat, rasa ingin dekat. Aku mengenali rasa malu-malu, rasa ingin diaku, rasa
ingin dikenali sebagai diriku yang berbeda dari yang lain. Seperti aku
menganggapmu berbeda dari yang lain.
Tapi, aku tidak menemukan rasa yang
kucari: Cinta.
Karena kuanggap, aku hanyalah gadis
biasa, yang masih perawan hatinya. Lelaki manapun yang lewat di hidupku dapat
membangkitkan ilusi romantisku yang memang sedang meletup-letup. Salahkanlah
novel-novel cinta yang kubaca, drama-drama yang sering kutonton, atau,
lagu-lagu yang dibuat para musisi piawai yang akrab di telingaku. Mereka penyebab
semua itu.
Dan yang seperti itu bukanlah cinta,
benar?
Benar. Aku benar-benar yakin itu
bukan cinta. Namun, aku punya sebuah perasaan rahasia untukmu. Tapi, ini
rahasia, jadi jangan bilang siapa-siapa ya?
Suki
yo.
Aku menyukaimu.
Komentar
Posting Komentar